Media Kampung – Pernikahan Mahathir Mohamad dan Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali merupakan salah satu kisah rumah tangga yang bertahan selama sekitar 70 tahun, dari tahun 1956 hingga wafatnya Siti Hasmah pada 28 September 2026. Kisah panjang ini menjadi inspirasi tentang bagaimana keharmonisan dan ketahanan dalam pernikahan dapat terjaga meskipun menghadapi beragam tantangan.
Awal Pertemuan dan Perjalanan Bersama
Mahathir Mohamad dan Siti Hasmah pertama kali bertemu saat keduanya masih mahasiswa kedokteran di King Edward VII College of Medicine, Singapura. Setelah menikah, mereka membangun keluarga yang bahagia dengan dikaruniai tujuh anak. Selama bertahun-tahun, pasangan ini menghadapi berbagai fase kehidupan bersama, termasuk konflik dan ketegangan yang wajar dalam rumah tangga.
Toleransi Kunci Keharmonisan Pernikahan
Mahathir Mohamad pernah menyatakan bahwa kunci utama keharmonisan rumah tangga mereka adalah toleransi. Mereka belajar menerima bahwa pasangan tidak selalu bisa berubah sesuai keinginan masing-masing. Toleransi menjadi faktor penting yang memungkinkan mereka menjalani hubungan selama puluhan tahun.
Sementara itu, Siti Hasmah menekankan pentingnya kepercayaan, cinta, perhatian, dan dukungan, termasuk dalam menghadapi masa-masa sulit bersama pasangan.
Perspektif Psikolog tentang Pernikahan Langgeng
Menurut psikolog klinis Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog, pernikahan yang langgeng bukan berarti bebas dari konflik. Justru, kedekatan dalam pernikahan perlu terus dirawat melalui interaksi kecil sehari-hari. Interaksi seperti mendengarkan pasangan, menanyakan kabar, menghargai perasaan, dan menghadapi konflik bersama merupakan bagian penting dalam menjaga keharmonisan.
Roslina menambahkan bahwa yang terpenting bukan hanya seberapa lama pernikahan berlangsung, tetapi bagaimana pasangan terus memilih untuk tumbuh dan beradaptasi dalam hubungan mereka.
Warisan Keharmonisan
Setelah tujuh dekade bersama, perjalanan hidup Mahathir Mohamad dan Siti Hasmah berakhir dengan meninggalnya Siti Hasmah pada usia 100 tahun. Kisah mereka menjadi contoh nyata bahwa pernikahan langgeng membutuhkan toleransi, cinta, dukungan, dan komitmen yang terus dipelihara setiap hari.












Tinggalkan Balasan