Media Kampung – Permainan bodycam shooter kini mulai menarik perhatian di dunia game first-person shooter (FPS), namun menghadirkan sejumlah tantangan tersendiri yang memengaruhi pengalaman bermain. Game seperti Better Than Dead mencoba membawa sudut pandang yang berbeda dengan menghadirkan gameplay di mana pemain berperan sebagai korban yang menggunakan bodycam dalam misi balas dendam, bukan sebagai petugas kepolisian seperti kebanyakan game sejenis.

Better Than Dead menawarkan 14 level yang mengajak pemain menembus berbagai lokasi mulai dari restoran hingga gang sempit di Hong Kong. Game ini menonjolkan efek visual yang sangat realistis, dengan pencahayaan dan tekstur yang menyerupai rekaman kamera aksi nyata. Namun, meski visualnya mengesankan, mekanisme permainan yang mengedepankan realisme justru membuat pengalaman bermain menjadi menantang dan terkadang membuat frustrasi.

Salah satu masalah utama adalah kontrol senjata yang dirancang untuk menggambarkan ketidakterampilan karakter utama dalam menembak. Gerakan senjata yang berlebihan dan kurangnya presisi menimbulkan sensasi bahwa pemain hanya mengayunkan pistol tanpa kemampuan membidik yang akurat. Hal ini terasa kurang masuk akal ketika karakter tersebut sudah menjadi sosok yang ditakuti oleh kelompok kriminal yang dibalaskan dendamnya.

Fitur bullet time yang muncul saat pemain melakukan sliding menjadi satu-satunya keunggulan yang bisa dimanfaatkan untuk bertahan, namun durasinya yang singkat dan ketidakkonsistenan dalam penggunaannya membuatnya sulit diandalkan. Kombinasi ini membuat kemenangan dalam setiap level lebih terasa seperti keberuntungan daripada hasil keterampilan.

Game ini, bersama dengan judul lain seperti Unrecord dan Bodycam, mencoba menampilkan realitas brutal dari pertempuran senjata yang kacau dan menegangkan melalui perspektif bodycam. Visual dan suasana yang begitu nyata kadang mengingatkan pada rekaman insiden kekerasan yang sebenarnya, memberikan pengalaman yang lebih mirip peringatan ketimbang hiburan.

Meskipun Better Than Dead kurang menyenangkan untuk dimainkan, game ini diapresiasi karena keberaniannya menghadirkan moralitas sederhana dan menghindari klise peran polisi dalam genre bodycam shooter. Permainan ini juga menimbulkan refleksi tentang hubungan antara penggambaran senjata secara realistis dalam game dan kenyataan sosial di luar dunia maya.

Dengan kemajuan teknologi grafis yang mampu meniru rekaman dunia nyata, bodycam shooter menghadirkan pengalaman yang unik sekaligus menantang para pemain untuk mempertimbangkan kembali batas antara hiburan dan realitas kekerasan yang dihadirkan. Saat ini, game seperti Better Than Dead masih dalam tahap pengembangan dan pengujian, sehingga perkembangan selanjutnya akan menentukan bagaimana genre ini dapat berkembang tanpa kehilangan keseimbangan antara realisme dan kesenangan bermain.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.