Media Kampung – 11 April 2026 | Pemerintah menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun 2025, menurunkan ketergantungan pada impor. Target tersebut direspon positif oleh petani tebu di beberapa provinsi.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan impor gula tahun ini turun 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini diperkirakan akan berlanjut seiring peningkatan produksi domestik.

Petani di Jawa Tengah mengaku bahwa dukungan pemerintah membantu mereka menambah luas tanam. “Kami menambah lahan sekitar 10 hektar karena ada jaminan harga beli,” ujar salah satu petani yang tidak disebutkan namanya.

Di Jawa Barat, kelompok tani melaporkan hasil panen lebih tinggi dari perkiraan. “Kualitas tebu kini lebih baik, sehingga perolahan gula menjadi lebih efisien,” tambahnya.

Namun, para petani juga menyoroti tantangan harga jual gula yang fluktuatif. Mereka berharap kebijakan harga minimal tetap dijaga agar produksi tidak turun kembali.

Pemerintah berjanji akan menstabilkan harga melalui mekanisme penetapan harga patokan. Mekanisme tersebut mencakup penyesuaian harga beli tebu dan harga jual gula di pasar domestik.

Selain subsidi, kementerian terkait juga mempercepat pembangunan pabrik gula baru di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pabrik baru diharapkan menambah kapasitas pengolahan sebesar 500.000 ton per tahun.

Pengembangan infrastruktur ini diharapkan mengurangi biaya transportasi bahan baku. Hal ini penting mengingat sebagian besar kebun tebu berada di daerah pedalaman.

Para ahli agronomi menilai bahwa adopsi teknologi irigasi tetes dapat meningkatkan produktivitas hingga 20 persen. Namun, biaya investasi masih menjadi kendala bagi petani kecil.

Bank Indonesia turut berperan dengan menyediakan kredit lunak bagi petani yang ingin beralih ke teknologi modern. Kredit tersebut dibarengi dengan pelatihan teknis di lapangan.

Jika semua faktor berjalan sesuai rencana, Indonesia dapat menutup hampir 95 persen kebutuhan gula domestik. Sisanya masih diperkirakan akan dipenuhi oleh impor khusus untuk produk olahan tertentu.

Pengurangan impor gula juga diharapkan dapat menekan defisit neraca perdagangan. Menurut Kementerian Keuangan, defisit perdagangan gula pada 2023 mencapai US$1,2 miliar.

Secara historis, Indonesia pernah mengalami krisis gula pada awal 2000-an akibat kegagalan panen dan harga dunia yang tinggi. Pelajaran dari masa lalu mendorong pemerintah memperkuat kebijakan ketahanan pangan.

Petani menilai bahwa kebijakan yang konsisten akan meningkatkan kepercayaan mereka untuk berinvestasi lebih besar. “Kita siap menambah produksi kalau ada jaminan pasar,” kata seorang petani di Lampung.

Di sisi lain, serikat pekerja industri gula mengingatkan pentingnya upah layak bagi pekerja pabrik. Mereka menolak penurunan upah meski produksi meningkat.

Pemerintah menegaskan bahwa peningkatan produksi tidak akan mengorbankan kesejahteraan pekerja. Kebijakan upah minimum tetap dijaga sesuai standar nasional.

Para analis pasar menilai bahwa swasembada gula dapat menjadi contoh sukses kebijakan ketahanan pangan. Keberhasilan ini dapat diadaptasi untuk sektor lain seperti beras dan daging.

Jika target tercapai, Indonesia akan menjadi salah satu produsen gula terbesar di Asia Tenggara. Hal ini dapat membuka peluang ekspor ke negara tetangga yang masih mengimpor gula.

Kesimpulannya, sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan keuangan, dan inovasi teknologi menjadi kunci utama. Petani tebu menyatakan kesiapan mereka untuk berkontribusi pada pencapaian swasembada gula konsumsi tahun depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.