Media Kampung – 11 April 2026 | Laju inflasi di Banyuwangi pada Maret 2026 tercatat 0,37 persen, menandakan harga tetap stabil meski bertepatan dengan Ramadan dan Idulfitri.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur (0,38 persen) dan jauh di bawah tingkat nasional yang mencapai 0,94 persen.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang berperan menjaga kestabilan harga selama periode tersebut.
Dia menekankan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, Pertamina, TNI, Polri, dan pemangku kepentingan lain menjadi kunci utama.
Kepala BPS Kabupaten Banyuwangi, Abdus Salam, menjelaskan bahwa beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, namun upaya pengendalian tetap berhasil.
Komoditas yang terdampak antara lain daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging sapi.
Kenaikan tersebut dipicu oleh tingginya permintaan konsumen selama bulan puasa.
Selain itu, permintaan LPG meningkat signifikan hingga akhir Maret, menyebabkan harga gas naik di sejumlah wilayah.
Salam menambahkan bahwa faktor global, termasuk konflik di Timur Tengah, turut memengaruhi harga bahan bakar non‑subsidisasi.
Meskipun begitu, Banyuwangi berhasil menahan laju inflasi berkat respons cepat dari otoritas setempat.
Satgas pangan daerah melakukan pemantauan intensif di pasar tradisional dan pusat perbelanjaan.
Langkah ini bertujuan memastikan ketersediaan stok bahan pokok dan menghindari spekulasi harga.
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menyelenggarakan operasi pasar sembako murah di beberapa kecamatan.
Program tersebut menyediakan bahan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat luas.
Pemerintah kabupaten juga mengadakan operasi pasar khusus LPG 3 kg di titik‑titik strategis.
Inisiatif ini dimaksudkan mengatasi kelangkaan dan memastikan harga LPG tetap sesuai ketentuan.
Data BPS menunjukkan bahwa meski terjadi tekanan pada beberapa sektor, inflasi keseluruhan tetap terkendali.
Stabilitas harga ini membantu menjaga daya beli konsumen selama masa lebaran.
Para pelaku usaha melaporkan bahwa pasokan barang tetap lancar berkat koordinasi dengan distributor.
Bank Indonesia turut berperan dengan kebijakan moneter yang mendukung kestabilan pasar.
Bulog memastikan pasokan beras dan bahan pokok lainnya terpenuhi secara berkelanjutan.
Pertamina menstabilkan harga BBM dengan menyesuaikan subsidi sesuai kebutuhan daerah.
Keberhasilan ini menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghadapi fluktuasi harga musiman.
Pengamat ekonomi regional mencatat bahwa pendekatan kolaboratif menjadi faktor utama dalam mengendalikan inflasi.
Mereka menilai bahwa sinergi antara lembaga keuangan, keamanan, dan pemerintah lokal meningkatkan efektivitas kebijakan.
Selain kebijakan harga, edukasi konsumen tentang penggunaan LPG secara efisien juga dilakukan.
Program penyuluhan ini membantu menurunkan permintaan berlebih pada akhir bulan.
Kondisi ekonomi nasional yang masih dipengaruhi oleh faktor eksternal menambah tantangan bagi daerah.
Namun, Banyuwangi berhasil mempertahankan inflasi di level yang lebih rendah dibanding provinsi dan negara.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi model bagi provinsi lain di Indonesia.
Pemerintah daerah berkomitmen melanjutkan upaya pengendalian harga selama tahun mendatang.
Target utama adalah menjaga inflasi tetap di bawah 0,5 persen pada periode penting keagamaan berikutnya.
Dengan dukungan berkelanjutan dari semua stakeholder, harapan akan stabilitas harga tetap tinggi.
Secara keseluruhan, kolaborasi lintas sektor terbukti efektif menahan tekanan inflasi di Banyuwangi selama Ramadan dan Idulfitri.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan