Media Kampung – 09 April 2026 | Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun menjadi 4,7% pada tahun 2026, di bawah ekspektasi sebelumnya. Proyeksi ini menandai perlambatan pertama sejak 2020 dalam perkiraan tahunan lembaga tersebut.

Data tersebut muncul dalam laporan tahunan Bank Dunia yang menilai faktor-faktor eksternal dan domestik. Penurunan pertumbuhan dipengaruhi oleh ketidakpastian global, inflasi energi, dan dinamika permintaan internasional.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan tanggapan resmi terhadap perkiraan tersebut. Ia menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi.

Ia menambahkan bahwa reformasi struktural tetap prioritas, terutama di sektor tenaga kerja dan regulasi investasi. Upaya memperbaiki iklim bisnis diharapkan menarik aliran modal asing.

Bank Dunia menyoroti perlunya peningkatan produktivitas sebagai kunci mengatasi pertumbuhan yang melambat. Laporan mengidentifikasi rendahnya adopsi teknologi sebagai tantangan utama.

Di sisi lain, sektor pertanian dan manufaktur diproyeksikan tetap menjadi penyumbang utama PDB. Namun, pertumbuhan ekspor barang menengah diperkirakan akan mengalami tekanan.

Hartarto menegaskan bahwa kebijakan stimulus yang telah diterapkan selama pandemi tidak akan berlanjut secara berlebihan. Fokus akan bergeser ke dukungan investasi jangka panjang.

Pemerintah berencana meningkatkan alokasi anggaran pada infrastruktur digital. Proyek jaringan 5G dan pusat data diharapkan mempercepat transformasi ekonomi.

Bank Dunia mencatat bahwa ketergantungan pada komoditas tetap tinggi. Diversifikasi ekonomi menjadi agenda penting dalam jangka menengah.

Menko menambahkan bahwa upaya memperluas basis pajak akan memperkuat pendapatan negara. Reformasi perpajakan diharapkan meningkatkan kepatuhan dan penerimaan.

Penguatan lembaga keuangan juga menjadi bagian dari strategi pemerintah. Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Hartarto menekankan perlunya kebijakan yang responsif terhadap fluktuasi harga komoditas. Kebijakan subsidi energi akan dievaluasi secara berkala.

Selain itu, pemerintah akan memperkuat program pelatihan tenaga kerja. Fokus pada keterampilan digital diharapkan mengurangi kesenjangan struktural.

Laporan Bank Dunia juga menyoroti pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam pertumbuhan ekonomi. Investasi hijau diproyeksikan menjadi peluang baru.

Hartarto mengakui perlunya sinergi antara pertumbuhan ekonomi dan tujuan iklim. Pemerintah berencana meningkatkan insentif bagi energi terbarukan.

Data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga tetap kuat, meski pertumbuhan melambat. Permintaan domestik akan menjadi pendorong utama dalam periode mendatang.

Namun, tekanan pada sektor properti diperkirakan akan meningkat. Pemerintah akan memantau risiko overleverage di pasar perumahan.

Bank Dunia menekankan pentingnya memperbaiki kualitas institusi. Transparansi dan akuntabilitas menjadi faktor penentu iklim investasi.

Hartarto menyatakan bahwa reformasi birokrasi terus menjadi fokus utama. Penyederhanaan prosedur perizinan diharapkan mempercepat proyek pembangunan.

Selain itu, upaya memperluas jaringan listrik ke wilayah pedalaman akan dipercepat. Penyediaan energi yang merata dianggap penting untuk pertumbuhan inklusif.

Laporan tersebut juga menyoroti risiko geopolitik yang dapat memengaruhi aliran perdagangan. Konflik di kawasan Asia-Pasifik menjadi faktor yang dipertimbangkan.

Menko menegaskan bahwa diplomasi ekonomi akan diperkuat untuk menjaga akses pasar. Kerjasama bilateral dan multilateral tetap menjadi prioritas.

Pemerintah berencana meningkatkan dukungan bagi UMKM melalui pembiayaan mikro. Program digitalisasi usaha kecil diharapkan meningkatkan daya saing.

Bank Dunia menilai bahwa peningkatan kualitas pendidikan akan memperkuat human capital. Investasi pada riset dan pengembangan dianggap krusial.

Hartarto menambahkan bahwa anggaran riset akan dialokasikan secara lebih efisien. Kolaborasi antara universitas dan industri menjadi kunci inovasi.

Secara keseluruhan, proyeksi Bank Dunia mencerminkan tantangan yang kompleks namun dapat diatasi dengan kebijakan terkoordinasi. Pemerintah menegaskan tekadnya untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Harapan ke depan tetap pada pencapaian pertumbuhan yang stabil meski berada di level lebih rendah. Komitmen bersama antara sektor publik dan swasta menjadi landasan utama.

Dengan langkah-langkah reformasi yang tepat, Indonesia diharapkan tetap menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Pemerintah optimis bahwa fondasi yang dibangun sekarang akan mendukung pemulihan jangka panjang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.