Media Kampung – 09 April 2026 | Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak melebihi tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sampai akhir 2024. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi kebijakan fiskal di Istana Merdeka, Senin (8 April).

Target itu sejalan dengan kebijakan makroekonomi pemerintah yang menuntut rasio utang publik tetap di bawah empat puluh persen PDB. Prabowo menambahkan, pencapaian batas utang dan defisit yang ketat merupakan prasyarat untuk memperkuat kepercayaan investor.

Dalam sidang tersebut, Menteri Keuangan menyoroti proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar lima setengah persen pada tahun ini. Proyeksi tersebut didukung oleh pemulihan sektor manufaktur dan ekspor yang menunjukkan tren positif.

Jika pertumbuhan mencapai angka yang diharapkan, pemerintah memperkirakan penerimaan pajak akan meningkat secara signifikan. Peningkatan pendapatan ini diharapkan dapat menutup sebagian besar selisih antara pendapatan dan belanja negara.

Selain itu, Kementerian Keuangan mengumumkan rencana pengetatan belanja modal pada proyek-proyek yang belum menghasilkan nilai tambah ekonomi. Fokus akan dialihkan ke infrastruktur produktif dan program pembangunan sumber daya manusia.

Baca juga:

Pengurangan belanja non‑prioritas diperkirakan akan menurunkan beban fiskal tanpa mengorbankan kualitas layanan publik. Kebijakan ini diharapkan menambah ruang fiskal untuk menyalurkan stimulus pada sektor‑sektor yang masih terdampak pandemi.

Presiden Prabowo menegaskan, “Kami tidak akan mengorbankan stabilitas keuangan negara demi pertumbuhan semata”. Ia menambahkan, “Defisit di bawah tiga persen dan utang di bawah empat puluh persen adalah batas merah yang tidak boleh dilanggar”.

Para ekonom menilai komitmen tersebut realistis asalkan pemerintah dapat menahan laju inflasi. Inflasi yang tetap terkendali akan melindungi daya beli masyarakat dan mengurangi tekanan pada kebijakan moneter.

Sementara itu, Bank Indonesia menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan suku bunga jika inflasi menunjukkan tren kenaikan. Kebijakan moneter yang koheren dengan fiskal menjadi kunci menjaga keseimbangan makroekonomi.

Pemerintah juga berencana meningkatkan efisiensi penerimaan pajak melalui digitalisasi sistem perpajakan. Sistem e‑faktur dan pelaporan real‑time diharapkan dapat menutup celah kebocoran pajak.

Penguatan basis data wajib pajak diharapkan menambah jumlah pembayar pajak baru, terutama dari sektor UMKM. Upaya ini sejalan dengan target pemerintah untuk memperluas basis pajak sebesar tiga persen dalam dua tahun ke depan.

Dalam konteks global, Indonesia berusaha menyesuaikan kebijakan fiskal dengan standar internasional. Mempertahankan defisit di bawah tiga persen sejalan dengan rekomendasi IMF dan World Bank untuk negara berkembang.

Baca juga:

Namun, beberapa analis mengingatkan bahwa tekanan eksternal, seperti volatilitas harga komoditas, dapat mempengaruhi pendapatan negara. Kenaikan harga minyak dan batu bara, yang menjadi sumber devisa, dapat berkontribusi pada stabilitas fiskal.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah menyiapkan cadangan devisa yang cukup. Cadangan ini diperkirakan berada pada level yang mampu menahan guncangan eksternal selama enam bulan.

Selain itu, Kementerian Keuangan menegaskan komitmen pada reformasi struktural. Reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik diharapkan menurunkan biaya operasional pemerintah.

Dalam jangka panjang, kebijakan tersebut diharapkan dapat memperbaiki peringkat kredit negara. Peringkat yang lebih baik akan menurunkan biaya pinjaman dan meningkatkan akses ke pasar modal internasional.

Investor domestik dan asing menunjukkan respons positif terhadap sinyal fiskal yang tegas. Indeks saham utama mencatat kenaikan modest setelah pengumuman kebijakan tersebut.

Pemerintah juga menyiapkan paket stimulus tambahan untuk sektor pertanian. Dukungan ini bertujuan meningkatkan produksi pangan dalam rangka mengurangi impor.

Secara keseluruhan, pemerintah menilai bahwa kombinasi pertumbuhan ekonomi yang sehat, disiplin fiskal, dan kebijakan moneter yang tepat dapat menjaga defisit tetap di bawah tiga persen. Upaya ini diharapkan memberikan landasan yang kuat bagi pemulihan ekonomi pasca‑pandemi.

Baca juga:

Penutup, Presiden Prabowo menegaskan bahwa target fiskal bukan sekadar angka, melainkan bagian dari strategi nasional untuk mencapai kesejahteraan berkelanjutan. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau realisasi anggaran dan menyesuaikan kebijakan bila diperlukan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.