Media Kampung – 08 April 2026 | Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru di bidang tekstil untuk memperkuat industri domestik. Pengumuman disampaikan melalui video resmi Kementerian BUMN yang diunggah pada akhir pekan lalu.

Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan nilai ekspor. Tekstil dipandang sebagai sektor strategis yang dapat menambah devisa dan menciptakan lapangan kerja.

Menanggapi hal tersebut, Menteri BUMN Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa BUMN tekstil akan fokus pada segmen bernilai tinggi seperti kain teknik dan produk berbasis teknologi. Ia menambahkan bahwa perusahaan akan bekerja sama dengan pelaku swasta serta Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lokal.

Modal awal yang dialokasikan untuk BUMN baru diperkirakan mencapai Rp5 triliun, dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta potensi kontribusi dana investasi strategis. Pendanaan ini diharapkan dapat menutupi biaya pembelian mesin modern dan pengembangan fasilitas produksi.

Pemerintah menargetkan penciptaan hingga 50.000 lapangan kerja langsung serta ribuan pekerjaan tidak langsung di sepanjang rantai nilai. Pekerjaan tersebut meliputi produksi, desain, logistik, dan pemasaran produk tekstil.

Para analis dari beberapa bank investasi memproyeksikan peningkatan kapasitas produksi domestik sebesar 15% dalam tiga tahun ke depan. Mereka menilai bahwa keberadaan BUMN dapat menstabilkan harga bahan baku dan mengurangi volatilitas pasar.

Industri tekstil mempekerjakan lebih dari 1,2 juta tenaga kerja, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. Dengan standar operasional yang lebih tinggi, BUMN diharapkan dapat memperbaiki kondisi kerja dan meningkatkan upah.

Beberapa pengamat ekonomi mengingatkan risiko inefisiensi yang pernah terjadi pada BUMN lama. Mereka menekankan perlunya mekanisme akuntabilitas yang kuat dan evaluasi kinerja berbasis hasil.

Pemerintah menjawab kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa tata kelola BUMN baru akan mengikuti reformasi BUMN terbaru, termasuk sistem remunerasi berbasis kinerja. Pengawasan akan dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Keberlanjutan menjadi salah satu pilar utama dalam perencanaan BUMN tekstil. Rencana mencakup penggunaan serat ramah lingkungan serta penerapan proses produksi bersertifikat ISO 14001.

Selain itu, BUMN akan mendukung riset dan pengembangan melalui kolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian. Fokus riset diarahkan pada inovasi material dan teknologi manufaktur cerdas.

Video resmi menyebutkan bahwa proses pendirian BUMN akan selesai dalam 12 bulan, sementara operasional penuh diharapkan tercapai dalam 24 bulan ke depan. Jadwal tersebut mencakup tahap perizinan, rekrutmen, dan instalasi peralatan.

Investor domestik maupun asing diundang untuk mengajukan proposal kerja sama melalui mekanisme seleksi yang transparan. Semua tawaran akan dievaluasi berdasarkan kriteria teknis, finansial, dan dampak sosial.

Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat basis manufaktur menjelang integrasi ekonomi ASEAN yang lebih dalam. Peningkatan kapasitas produksi diharapkan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar regional.

Pemerintah juga menyiapkan insentif fiskal bagi perusahaan yang berkontribusi pada rantai pasok BUMN tekstil. Insentif meliputi pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) selama tiga tahun pertama.

Pengalaman negara lain, seperti Turki dan Bangladesh, dijadikan referensi dalam merancang model BUMN tekstil yang adaptif. Kedua negara berhasil meningkatkan nilai ekspor tekstil melalui dukungan pemerintah yang terstruktur.

Secara keseluruhan, pembentukan BUMN tekstil diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan industri dalam negeri, sekaligus membuka peluang investasi dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah menegaskan komitmen untuk mewujudkan industri tekstil yang kompetitif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.