Media Kampung – 08 April 2026 | Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa nilai tukar rupiah telah menembus level terendah sepanjang sejarah pada minggu ini. Penurunan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang semakin intens.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama otoritas moneter. Ia menambahkan bahwa kebijakan yang diambil akan difokuskan pada menjaga kestabilan pasar keuangan.
Rupiah melemah melewati batas Rp15.000 per dolar AS, level yang belum pernah tercapai sejak peluncuran mata uang pada 1960-an. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, termasuk kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat dan geopolitik yang tidak menentu.
Data pasar menunjukkan peningkatan volatilitas pada pasangan mata uang USD/IDR, dengan selisih spread yang melebar dalam beberapa hari terakhir. Investor domestik dan asing menanggapi tekanan tersebut dengan mengalihkan sebagian dana ke aset safe‑haven seperti dolar dan emas.
Sebagai respons, BI telah menyiapkan instrumen kebijakan moneter tambahan, termasuk penyesuaian suku bunga acuan dan operasi pasar terbuka. Pihak bank sentral juga memperkuat koordinasi dengan otoritas fiskal untuk mengendalikan aliran modal keluar.
Destry Damayanti menuturkan bahwa penyesuaian suku bunga akan dipertimbangkan secara hati‑hati, mengingat dampaknya pada pertumbuhan ekonomi domestik. Ia menekankan bahwa keputusan tidak akan diambil secara terburu‑buruk, melainkan berdasarkan analisis data terkini.
Selain itu, BI berencana meningkatkan likuiditas pasar uang melalui fasilitas repo dan penawaran surat berharga pemerintah. Langkah tersebut diharapkan dapat menstabilkan ekspektasi pasar dan menurunkan tekanan jual pada rupiah.
Pemerintah juga meninjau kebijakan fiskal, termasuk penyesuaian subsidi energi dan penguatan cadangan devisa, untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal dipandang penting dalam mengatasi guncangan eksternal.
Pengamat ekonomi menilai bahwa meskipun tekanan jangka pendek tetap tinggi, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Cadangan devisa yang mencukupi serta neraca perdagangan surplus memberikan bantalan bagi nilai tukar.
Namun, risiko inflasi tetap menjadi perhatian utama, terutama jika depresiasi rupiah mendorong kenaikan harga barang impor. BI menyatakan komitmen untuk menjaga inflasi tetap dalam target 2‑4 persen.
Kondisi global yang tidak menentu, termasuk kebijakan suku bunga Fed dan konflik geopolitik, diproyeksikan akan mempengaruhi nilai tukar selama beberapa kuartal ke depan. BI menyiapkan skenario kebijakan yang fleksibel untuk menanggapi perkembangan tersebut.
Secara keseluruhan, otoritas moneter menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pernyataan tersebut diharapkan dapat menenangkan pasar dan memperkuat kepercayaan pelaku ekonomi.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar dan menyesuaikan strategi keuangan bila diperlukan. BI akan terus memantau perkembangan pasar dan memberikan sinyal kebijakan secara transparan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan