Media Kampung – 02 April 2026 | Nilai ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia pada Januari‑Februari 2026 mencapai US$4,69 miliar, naik 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini sejalan dengan lonjakan volume ekspor menjadi 4,54 juta ton, melambungkan total ekspor non‑migas nasional ke US$42,35 miliar, tumbuh 2,82 persen secara tahunan.

Deputi Statistik Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, menyatakan bahwa pertumbuhan nilai dan volume CPO mencerminkan kinerja komoditas unggulan yang signifikan pada awal tahun. Ia menambahkan bahwa sektor industri pengolahan berkontribusi 5,36 persen terhadap peningkatan ekspor non‑migas selama dua bulan pertama 2026.

Indonesia menguasai lebih dari 60 persen produksi CPO dunia, menjadikannya pemain kunci di pasar global. Kementerian Pertanian menegaskan bahwa hilirisasi sawit harus mengubah posisi negara dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah tinggi.

Kepala Biro Komunikasi Kementan, Moch Arief Cahyono, menegaskan bahwa pengolahan CPO menjadi pangan, kosmetik, oleokimia, dan bioenergi dapat meningkatkan daya saing industri serta ketahanan ekonomi nasional. Menurutnya, leverage besar atas pasar CPO memberi Indonesia peluang menentukan arah pasokan dan harga produk turunan sawit global.

Pemerintah menargetkan implementasi bahan bakar biodiesel B50 yang membutuhkan sekitar 5,3 juta ton CPO, yang dapat dialihkan dari ekspor untuk produksi bahan bakar nabati. Jika B50 diterapkan secara penuh, impor solar diperkirakan dapat berkurang secara signifikan, mendukung kemandirian energi dalam negeri.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menunjukkan produksi CPO tahun 2025 mencapai 51,66 juta ton, meningkat 7,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor produk sawit pada 2025 mencapai 32,34 juta ton dengan nilai US$35,87 miliar, memberikan dorongan nyata bagi kesejahteraan petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat 125,45 pada Februari 2026, mencerminkan peningkatan pendapatan petani setelah kenaikan harga ekspor. Kementan memperkirakan hilirisasi dapat menambah nilai produk sawit hingga tiga hingga sepuluh kali lipat, bahkan lebih dari tiga puluh kali lipat untuk produk khusus seperti oleokimia dan vitamin E.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, “Jika CPO diolah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia.” Ia menambahkan bahwa penguasaan lebih dari 60 persen pasar dunia menuntut Indonesia terus mendorong hilirisasi untuk memperkuat posisi strategis.

Dengan kekuatan komoditas strategis seperti sawit dan beras, Indonesia tidak lagi sekadar peserta pasar, melainkan penggerak dinamika perdagangan global. Hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi domestik, melainkan juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Secara keseluruhan, lonjakan ekspor CPO dan kebijakan hilirisasi Kementan menandai langkah penting menuju kemandirian energi dan peningkatan nilai tambah bagi sektor pertanian. Jika kebijakan ini dijalankan konsisten, Indonesia berpotensi memperkuat posisi sebagai pusat produksi produk turunan sawit berteknologi tinggi di pasar internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.