Media Kampung – 31 Maret 2026 | Direksi PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD mengumumkan bahwa konflik bersenjata di Iran mulai menimbulkan gangguan signifikan pada impor pangan Indonesia.
Ghimoyo, yang baru saja diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan Sis Apik Wijayanto, menjelaskan bahwa kenaikan nilai tukar serta harga barang di negara pemasok memperburuk tekanan biaya impor.
Menurutnya, sektor daging impor menjadi yang paling terdampak karena harga dan kurs mata uang naik seiring dengan ketidakstabilan di kawasan Teluk Persia.
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berujung pada penutupan Selat Hormuz menghambat jalur logistik energi dan komoditas, termasuk bahan pangan penting.
Penutupan Selat Hormuz mengurangi kapasitas pasokan global urea hingga 10 juta ton per tahun, memicu kekhawatiran akan krisis pupuk bagi negara importir.
Indonesia, sebagai salah satu eksportir urea terbesar dengan produksi tahunan sekitar 9,4 juta ton, diperkirakan dapat menambah ekspor antara 1,5 hingga 2 juta ton untuk menutup kekosongan pasar.
Ghimoyo menekankan bahwa ID FOOD akan memperkuat peran stabilisasi harga pangan domestik dengan memanfaatkan sumber daya lokal guna mengurangi ketergantungan pada impor yang berisiko.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini mencakup pengembangan rantai pasok berkelanjutan, peningkatan efisiensi distribusi, serta dukungan terhadap petani melalui penyediaan bahan baku terjangkau.
Selain geopolitik, perubahan iklim juga menjadi faktor penambah tekanan, khususnya potensi terjadinya fenomena El Nino yang diprediksi memiliki probabilitas 60 persen pada musim panas 2026.
Badan meteorologi internasional mengindikasikan bahwa El Nino kuat atau bahkan Super El Nino dapat muncul menjelang akhir tahun, mengancam produksi pertanian melalui curah hujan yang tidak menentu.
Ghimoyo menyatakan bahwa fluktuasi iklim menambah beban pada sistem pangan nasional, sehingga strategi diversifikasi sumber dan peningkatan ketahanan menjadi prioritas.
Hubungan antara sektor energi dan pangan juga mendapat sorotan, karena meningkatnya penggunaan komoditas pertanian sebagai bahan baku biofuel dapat menambah permintaan global.
Peningkatan permintaan biofuel berpotensi menimbulkan kenaikan harga komoditas pertanian, yang pada gilirannya memengaruhi biaya produksi makanan di dalam negeri.
Dalam rapat kerja Komisi VI DPR pada 30 Maret 2026, Ghimoyo menegaskan bahwa ID FOOD akan berperan sebagai “stabilisator ekosistem pangan nasional” untuk mengantisipasi guncangan eksternal.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah laporan Badan Pangan Dunia yang memperkirakan kenaikan harga pangan global mencapai 15 persen pada akhir tahun karena ketegangan geopolitik.
Pemerintah Indonesia telah menyiapkan kebijakan impor alternatif, termasuk memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat untuk mengimpor komoditas pertanian strategis.
menteri pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa setiap impor harus mendapatkan rekomendasi resmi guna menjaga keseimbangan pasar domestik.
Sementara itu, para pelaku industri mengamati bahwa gangguan jalur laut di Selat Hormuz dapat memperpanjang waktu transit barang hingga tiga minggu lebih lama dibandingkan sebelumnya.
Kenaikan waktu pengiriman meningkatkan biaya logistik, yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen melalui harga jual yang lebih tinggi.
ID FOOD berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan dalam negeri dan memperkuat jaringan distribusi regional untuk meredam dampak biaya tambahan tersebut.
Pada saat yang sama, perusahaan juga memperluas program pembelian bahan baku lokal, termasuk gula, beras, dan jagung, untuk mengurangi beban impor.
Analisis pasar menunjukkan bahwa permintaan daging impor Indonesia diperkirakan turun 5-7 persen pada kuartal berikutnya jika kondisi geopolitik tidak segera stabil.
Sebagai respons, ID FOOD mengintensifkan kerja sama dengan peternak domestik guna meningkatkan produksi daging lokal melalui program intensifikasi ternak.
Pendekatan ini diharapkan dapat menurunkan ketergantungan pada pasokan luar negeri dan memperkuat kemandirian pangan nasional.
Pengamat ekonomi menilai bahwa strategi diversifikasi pasokan dan penguatan produksi dalam negeri merupakan langkah tepat untuk menghadapi ketidakpastian global.
Namun, mereka mengingatkan bahwa faktor eksternal seperti harga energi dan kebijakan tarif tetap dapat memengaruhi biaya produksi secara signifikan.
Secara keseluruhan, kombinasi gejolak geopolitik, risiko iklim, dan dinamika energi menuntut respons terpadu antara pemerintah, BUMN, dan pelaku usaha.
Dengan kebijakan stabilisasi harga dan pemanfaatan sumber daya lokal, ID FOOD berusaha menjaga ketahanan pangan Indonesia meski situasi internasional terus berubah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan