Media Kampung, Palembang – Kota Palembang mengalami peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama 21 hari pertama September 2026. Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang mencatat sebanyak 12.589 kasus ISPA yang berkaitan erat dengan kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Peningkatan Kasus ISPA dan Kondisi Udara

Kepala Dinkes Palembang, Fenty Aprina, menjelaskan bahwa kabut asap dan paparan debu yang pekat menjadi faktor utama meningkatnya gangguan pernapasan di masyarakat. Pada puncak kondisi kabut asap tersebut, fasilitas kesehatan di kota ini melayani hingga sekitar 706 pasien ISPA per hari.

Meski demikian, seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis yang memadai, dan hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat ISPA yang terkait kabut asap tersebut.

Data Kasus dan Wilayah Terdampak

Sepanjang tahun 2026, total kasus ISPA di Palembang telah mencapai 125.721 kasus. Dari peta penyebaran kasus, Kecamatan Sukarami menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi dalam periode tersebut, yaitu 91 kasus. Selain itu, kelompok usia produktif 19 sampai 59 tahun tercatat sebagai kelompok yang paling banyak mengalami ISPA, dengan 320 kasus.

Imbauan dan Upaya Pencegahan

Dinkes Palembang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara yang memburuk. Langkah pencegahan yang disarankan antara lain mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas di tengah kondisi kabut asap yang pekat.

Fenty menegaskan bahwa fasilitas kesehatan terus siaga memberikan pelayanan dan penanganan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap tersebut.

Dampak dan Pentingnya Kesadaran Masyarakat

Kabut asap dari karhutla tidak hanya berdampak pada kesehatan pernapasan, tetapi juga dapat memperburuk kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya perlindungan diri dan penanganan medis yang cepat sangat krusial untuk mengurangi risiko komplikasi kesehatan.

Selain itu, tindakan preventif seperti menghindari sumber asap dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta Dinkes menjadi langkah penting yang harus diambil oleh masyarakat.

Situasi ini menjadi pengingat penting akan dampak serius kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan masyarakat, serta perlunya penanganan terpadu dari berbagai pihak untuk mengatasi dan mencegah kejadian serupa di masa depan.