Media Kampung – Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian menjelang tahun 2026 dengan prediksi penguatan yang signifikan. Namun, pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa kemungkinan munculnya El Nino super kuat atau yang dikenal dengan sebutan “Godzilla El Nino” di Indonesia masih relatif kecil. Hal ini diungkapkan oleh Eddy Hermawan, peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, kepada Media Kampung pada Jumat malam, 22 Mei 2026.

Eddy menjelaskan bahwa istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada kejadian El Nino ekstrem seperti yang pernah terjadi pada tahun 1997-1998 dan 2015-2016, di mana anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik melampaui 2 derajat Celsius. Kedua peristiwa tersebut menyebabkan dampak besar pada cuaca, produksi pangan, hingga ekonomi di berbagai negara termasuk Indonesia.

Meski beberapa model prediksi dari Australia memperkirakan anomali suhu laut pada Oktober 2026 bisa mendekati angka 3 derajat Celsius, Eddy menilai kondisi saat ini belum menunjukkan tanda kuat menuju skenario ekstrem tersebut. Sebagian besar model iklim global masih memperkirakan kondisi El Nino dengan intensitas moderat. Menurutnya, hanya satu model dari Australia yang memperlihatkan potensi anomali melebihi 2 derajat, sementara mayoritas model lain masih berada di bawah ambang batas El Nino super.

Selain itu, Eddy menambahkan bahwa tidak terlihat adanya gejala awal atau “mencuri start” yang biasa muncul sebelum terjadinya El Nino ekstrem seperti pada 1997 dan 2015. Pada dua periode tersebut, pemanasan suhu laut di Pasifik sudah mulai terjadi sejak bulan April sehingga durasi El Nino berlangsung panjang hingga 13-14 bulan. Kondisi tersebut belum teramati pada tahun ini.

Meski peluang Godzilla El Nino relatif kecil, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa El Nino akan aktif mulai Juni 2026 dengan intensitas antara sedang hingga kuat. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebut fenomena ini dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir, terutama pada puncak kemarau di Agustus dan September.

Menindaklanjuti potensi dampak tersebut, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan BMKG untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca sebagai upaya mengantisipasi kekeringan dan menjaga ketahanan pangan nasional. Operasi ini akan dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah untuk memastikan ketersediaan air di waduk, embung, dan daerah tangkapan air.

BMKG juga mendorong masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak masa transisi dari musim hujan ke kemarau. Beberapa langkah yang disarankan antara lain memanfaatkan air hujan sebagai cadangan, menggunakan masker saat kualitas udara menurun, dan melindungi diri dari paparan sinar ultraviolet yang meningkat selama kemarau. Selain itu, penyesuaian di sektor pangan dan perikanan juga penting dilakukan sesuai kondisi iklim setempat.

Dengan kondisi yang masih moderat dan berbagai antisipasi yang telah disiapkan, Indonesia diharapkan dapat menghadapi potensi El Nino pada tahun ini tanpa mengalami dampak ekstrem seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.