Media Kampung – 04 April 2026 | Air meluap hingga satu meter menenggelamkan sebagian besar rumah di Desa Trimulyo dan Sidoharjo, Kecamatan Demak, Jawa Tengah. Banjir tersebut terjadi pada sore hari setelah curah hujan tinggi menggenangi daerah aliran sungai.

Penyebab utama banjir adalah robeknya tanggul pada Sungai Tuntang yang mengalir di sekitar kedua desa. Tanggul yang sebelumnya berfungsi menahan debit air tiba-tiba jebol, membuka aliran bebas ke wilayah pemukiman.

Sebanyak 350 warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal dan mengungsi ke posko darurat yang didirikan di balai desa. Posko tersebut menampung sekitar 200 keluarga dengan fasilitas dasar seperti makanan dan air bersih.

Pemerintah Kabupaten Demak mengirimkan tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengkoordinasi evakuasi dan penanggulangan awal. Tim tersebut bekerja sama dengan aparat kepolisian serta relawan setempat.

Di posko, petugas menyiapkan tenda, selimut, serta perlengkapan kebersihan bagi para pengungsi. Bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, dan mie instan dibagikan secara bertahap.

Selain bantuan logistik, pihak berwenang juga menyiapkan jalur evakuasi alternatif karena beberapa jalan utama terendam. Mobil lapangan dan truk berukuran kecil digunakan untuk mengevakuasi warga yang terisolasi.

Kerusakan pada hunian diperkirakan mencapai lebih dari 150 rumah, dengan sebagian besar atap runtuh dan dinding remuk. Beberapa rumah mengalami kerusakan struktural sehingga memerlukan perbaikan total.

Petani di sekitar desa melaporkan kehilangan lahan tanam seluas 3 hektar akibat air yang menggenangi sawah. Tanaman padi dan sayuran yang masih dalam fase pertumbuhan diperkirakan akan mengalami kerugian besar.

Akses jalan utama ke Desa Trimulyo dan Sidoharjo terputus karena genangan air dan longsor kecil di sisi jalan. Penggunaan kendaraan roda empat terbatas, sehingga bantuan harus diangkut dengan kendaraan roda dua atau berjalan kaki.

Camat Demak, H. Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa pemerintah setempat akan mengupayakan perbaikan tanggul secepatnya. Ia menambahkan bahwa proses rehabilitasi diperkirakan memakan waktu tiga minggu, tergantung pada kondisi cuaca.

Pusat Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengirimkan tim ahli untuk melakukan evaluasi struktural pada tanggul yang rusak. Tim tersebut juga memberikan rekomendasi peningkatan desain agar tidak terulang di masa depan.

Banjir serupa pernah melanda wilayah Demak pada tahun 2020, namun dengan intensitas yang lebih rendah. Pengalaman tersebut mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan prosedur evakuasi yang lebih terkoordinasi.

Ke depan, pemerintah Kabupaten Demak berencana membangun sistem peringatan dini berbasis sensor tingkat air sungai. Sistem ini diharapkan dapat memberi peringatan kepada warga sebelum air mencapai level kritis.

Saat ini, upaya pemulihan masih berlangsung dan warga terus menunggu bantuan serta perbaikan infrastruktur. Kondisi di kedua desa tetap terpantau oleh pihak berwenang untuk mencegah kejadian serupa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.