ANGGANA – Sebuah karya literasi bertajuk “Anggana dan Cerita-Cerita di Sekitarnya” segera hadir sebagai upaya merawat ingatan kolektif tentang sejarah dan kehidupan lokal. Buku ini tidak hanya menyajikan narasi, tetapi menjadi arsip hidup yang memadukan kisah, puisi, serta visual yang merekam jejak ruang dan waktu di Anggana.
Karya tersebut lahir dari kolaborasi lintas generasi antara para guru dan siswa-siswi MA Miftahul Ulum Anggana. Sinergi ini menghadirkan sudut pandang yang kaya—menggabungkan pengalaman, refleksi, serta semangat muda dalam merangkai cerita tentang identitas dan akar budaya.
Proses penyuntingan buku ini dipercayakan kepada Sultan Musa, yang dikenal memiliki ketajaman dalam merangkai narasi. Sentuhan editorialnya memperkuat alur cerita sehingga lebih utuh dan bermakna bagi pembaca.
Dari sisi visual, buku ini juga menghadirkan daya tarik tersendiri melalui desain sampul karya Lampurio. Ilustrasi yang ditampilkan tidak hanya estetis, tetapi juga merepresentasikan ruh dan karakter Anggana sebagai ruang yang sarat cerita.
Lebih dari sekadar buku, karya ini menjadi medium untuk “pulang ke akar”. Pembaca diajak menelusuri kembali kisah masa lalu, memahami dinamika sosial, hingga menikmati potret visual yang merekam sudut-sudut Anggana yang mungkin luput dari perhatian.
Para penulis meyakini bahwa setiap tempat menyimpan cerita yang layak untuk dirawat. Menulis, dalam konteks ini, menjadi cara menjaga memori agar tidak hilang ditelan waktu.
“Anggana dan Cerita-Cerita di Sekitarnya” diharapkan tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga warisan pengetahuan bagi generasi mendatang. Sebuah pengingat bahwa identitas dan sejarah lokal adalah bagian penting dari jati diri bersama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan