Media Kampung – 09 Maret 2026 | Kasanga Festival 2026 yang digelar di Denpasar kembali menjadi sorotan publik setelah pengumuman pemenang Lomba Ogoh-Ogoh Besar. Karya “Wit Kawit” buatan Sekaa Teruna (ST) Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah Sidakarya, berhasil mengukir prestasi tertinggi sebagai Juara I. Sementara itu, ogoh-ogoh ST Cantika dengan ikon Dewi Saraswati dan tema Banyu Pinaruh hanya memperoleh gelar Juara Favorit. Keputusan ini menuai pertanyaan, terutama setelah salah satu juri, I Gede Anom Ranuara, menjelaskan alasan teknis dan etis di balik penilaiannya.
Latar Belakang Kasanga Festival 2026
Kasanga Festival, yang diadakan setiap tahun menjelang Nyepi, menjadi ajang kompetisi seni tradisional terbesar di Bali. Tahun ini, festival menampilkan lebih dari 600 ogog-ogoh dari seluruh pulau, dengan proses seleksi ketat hingga 16 besar. Penilaian dilakukan dalam dua tahap: penilaian fisik on‑the‑spot di lokasi dan penilaian konseptual setelah lolos ke babak final, sebagaimana dijelaskan oleh Ketua Panitia Yogi Pramana.
Keunggulan “Wit Kawit” yang Membawa Juara I
Menurut juri dan panitia, ogoh-ogoh “Wit Kawit” menonjol dalam beberapa aspek krusial:
- Anatomi dan Proporsi: Struktur tubuh ogoh‑ogoh menunjukkan keseimbangan visual yang kuat, dengan angle yang tepat sehingga menghasilkan tampilan yang harmonis.
- Psikoplastis dan Ideoplastis: Konsep “Kutukan Cukumanik” yang diangkat menambah kedalaman naratif, menjadikan karya tidak sekadar estetika tetapi juga memiliki cerita yang menggelitik imajinasi.
- Performansi Pawai: Dilengkapi mesin penggerak memutar, “Wit Kawit” menampilkan atraksi dinamis yang memikat penonton, memperoleh nilai tinggi pada bobot penilaian pawai (35%).
- Respons Juri: Juri menilai bahwa pawai ogoh‑ogoh harus menonjolkan unsur karnaval, bukan sekadar fragmen tari. “Wit Kawit” berhasil menggabungkan kedua elemen tersebut.
Kenapa Dewi Saraswati Hanya Juara Favorit?
Ogoh‑ogoh ST Cantika dengan ikon Dewi Saraswati sempat menjadi sorotan karena awalnya masuk dalam 16 besar dengan nilai tertinggi. Namun, pada penilaian on‑the‑spot, juri I Gede Anom mengidentifikasi masalah anatomi pada figur Dewi Saraswati:
- Posisi kaki nengkleng (satu kaki terangkat) yang tidak sesuai dengan standar ikonografi Dewi Saraswati di sekolah‑sekolah Bali, dimana posisi kaki selalu tegak lurus.
- Potensi interpretasi negatif bagi anak‑anak yang melihat ogoh‑ogoh, yang dapat memicu protes atau kebingungan terhadap representasi budaya.
Guru Anom menegaskan pentingnya etika dalam penilaian: “Meskipun publik menilai favorit, juri harus memperhatikan kesesuaian budaya dan anatomi. Tiang bisa terima kalau dia juara favorit, tapi untuk kami, etika tetap menjadi pertimbangan utama.”
Proses Penilaian dan Bobot Nilai
Sistem penilaian Kasanga Festival memadukan aspek fisik (anatomi, proporsi, psikoplastis) dengan aspek pertunjukan (karnaval, fragmen, atraksi). Bobot pawai sebesar 35% menjadi faktor penentu utama, sementara penilaian konseptual dan teknis melengkapi total skor. Juri yang berada “on the spot” di lapangan juga memberikan masukan real‑time yang dapat memengaruhi skor akhir.
Reaksi Peserta dan Masyarakat
Setelah pengumuman, tenda pameran ogoh‑ogoh “Wit Kawit” dipadati pengunjung yang antusias. Ketua Sekaa Teruna, Putu Ade Cahya Mahardika Putra, menyampaikan harapan agar festival ini terus berlanjut dan menjadi sarana bagi generasi muda menyalurkan kreativitas. Di sisi lain, beberapa anggota komunitas mengkritik keputusan juri terhadap Dewi Saraswati, menganggapnya terlalu kaku terhadap interpretasi seni.
Implikasi Ke Depan
Keputusan juri menegaskan pentingnya keseimbangan antara kebebasan artistik dan penghormatan terhadap nilai‑nilai budaya tradisional. Festival selanjutnya diprediksi akan menyesuaikan pedoman anatomi dan simbolik agar tidak terjadi kontroversi serupa. Panitia juga berencana menambah kategori khusus yang menilai inovasi sekaligus kesesuaian budaya.
Secara keseluruhan, Kasanga Festival 2026 berhasil menampilkan ragam kreativitas ogoh‑ogoh Bali, sekaligus membuka dialog penting tentang batas antara inovasi seni dan pelestarian tradisi.









Tinggalkan Balasan