Media Kampung – Indeks saham teknologi China, Star50, mengalami penurunan yang signifikan hampir 40% dalam enam bulan terakhir, menjadikannya sebagai indeks saham teknologi utama dengan kinerja terburuk di dunia. Penurunan ini dipicu oleh meredanya euforia terhadap kecerdasan buatan (AI) global yang telah menekan harga saham teknologi di China.

Menurut laporan dari Xinhua Finance pada 18 Oktober 2026, indeks Star50 merosot 38,46% dari penutupan 30 Juni hingga 16 Oktober, dari 2.207,86 poin menjadi 1.358,65 poin. Hal ini menjadi pukulan bagi ambisi China untuk memanfaatkan pasar modal dalam pengembangan teknologi dan memperkuat posisinya dalam industri AI global.

Penurunan Signifikan di Sektor Teknologi

Beberapa perusahaan semikonduktor di China, seperti MetaX Integrated Circuits Shanghai Co. dan Moore Threads Technology Co., mengalami penurunan harga saham yang signifikan, kehilangan hampir setengah dari nilai mereka. Indeks ChiNext, yang banyak berisi saham perangkat keras teknologi, juga merosot 36%.

Performa indeks Star50 berbalik drastis dari awal tahun, di mana indeks tersebut sempat melonjak sekitar 75% antara April hingga Juni, bahkan mengungguli indeks Kospi Korea Selatan. Lonjakan tersebut didorong oleh optimisme atas terobosan teknologi dan dukungan pemerintah dalam sektor AI.

Sentimen Investor Berubah

Namun, sentimen investor mulai berubah seiring dengan meningkatnya kekhawatiran tentang prospek permintaan dan potensi pendapatan perusahaan AI. Valuasi saham teknologi China yang sebelumnya tinggi kini menjadi beban, terutama ketika investor mempertanyakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan sesuai harapan. Pada puncaknya, 30 Juni 2026, Star50 diperdagangkan pada valuasi lebih dari 80 kali estimasi laba ke depan, tetapi kini telah terkoreksi menjadi di atas 40 kali estimasi laba ke depan.

Sebagai perbandingan, indeks Kospi Korea Selatan diperdagangkan pada valuasi kurang dari lima kali estimasi laba, sedangkan Nasdaq 100 sekitar 21 kali. Analis Bloomberg Intelligence mencatat bahwa aksi jual saham perangkat keras AI global yang melanda Nasdaq dan Korea Selatan telah berdampak besar pada saham China di pasar domestik.

Arus Dana Keluar

Di kuartal III 2026, arus dana keluar dari saham domestik China melalui jalur perdagangan dengan investor asing diperkirakan mencapai 90 miliar yuan (sekitar USD 13,5 miliar), menjadi arus keluar terbesar dalam setahun. Hal ini membalikkan lebih dari separuh dana yang masuk pada periode sebelumnya.

Perusahaan teknologi yang baru melantai di bursa juga merasakan dampak negatif. CXMT Corp., yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada Juli, mengalami penurunan 27% dari level tertingginya. Sementara itu, Yushu Technology Co., produsen robotika, kehilangan sekitar 50% dari nilai tertingginya setelah IPO pada Agustus.

Tekanan pada Pendanaan Perusahaan AI

Penurunan saham teknologi ini menciptakan tantangan bagi pemerintah China yang ingin menjadikan pasar modal sebagai sumber pendanaan bagi pertumbuhan perusahaan teknologi. Banyak perusahaan AI dan startup kini lebih mengandalkan penerbitan saham dibandingkan utang, mengingat tingginya biaya penerbitan obligasi di pasar global.

Leonid Mironov, manajer portofolio di Gavekal Capital, menekankan bahwa tekanan berkepanjangan terhadap saham teknologi dapat menghambat ambisi AI China. Jika pelemahan pasar terus berlanjut, lebih sulit bagi perusahaan untuk menghimpun dana yang diperlukan untuk inovasi.

Pemerintah China telah mulai merespons tekanan ini dengan menggelar pertemuan untuk membahas langkah-langkah stabilisasi pasar dan mendorong dana yang didukung negara untuk mempercepat pembelian saham. Musim laporan keuangan kuartal III diharapkan dapat memperbaiki sentimen pasar jika kinerja perusahaan melampaui ekspektasi.

Namun, sebagian investor masih berpendapat bahwa saham AI China belum cukup murah meskipun telah mengalami koreksi. Jian Shi Cortesi, manajer dana di GAM Investment Management, menyebut penurunan ini lebih mencerminkan koreksi teknikal daripada peluang investasi berbasis valuasi murah.