Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda penerapan paket sanksi baru yang menargetkan perekonomian Rusia. Keputusan ini diambil dua hari sebelum tenggat penerapan sanksi yang ditetapkan dalam undang-undang tersebut. Mengutip AP News pada Sabtu, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk menunda kebijakan itu, dengan alasan penundaan dilakukan demi kepentingan nasional AS.

Keputusan tersebut menuai kritik tajam dari Partai Demokrat di Kongres, terutama karena Trump baru saja menandatangani Undang-Undang yang menjadi dasar paket sanksi tersebut pada bulan lalu. Paket sanksi ini disusun oleh mendiang Senator Lindsey Graham dari Partai Republik dan Senator Richard Blumenthal dari Partai Demokrat, yang bertujuan menekan sumber pendanaan perang Rusia terhadap Ukraina.

Tujuan dan Isi Paket Sanksi

Melalui aturan tersebut, pemerintah AS diarahkan untuk menjatuhkan sanksi kepada pejabat dan bank Rusia, serta armada kapal tanker pengangkut energi Rusia. Aturan ini juga memberikan kewenangan kepada Trump untuk mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap lima negara pengimpor terbesar minyak atau gas alam Rusia. Namun, terdapat pengecualian bagi negara yang mengimpor kurang dari 15 persen ekspor gas alam Rusia dan telah mengambil langkah signifikan untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Kritik Terhadap Kesepakatan Energi

Penundaan sanksi ini terjadi sekitar sepekan setelah Trump mengumumkan kesepakatan pembelian solar dari Rusia, yang diklaim bertujuan menekan harga energi global yang masih tinggi. Dalam kesepakatan itu, Rusia disebut akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar, dengan pasokan tambahan sebanyak 500.000 ton dijadwalkan pada November, disusul 1 juta ton pada tahap berikutnya.

Kesepakatan tersebut menuai kritik dari anggota Partai Republik maupun Demokrat, yang menilai bahwa pembelian energi dari Rusia berpotensi membantu negara itu membiayai perang, tanpa memberikan dampak berarti terhadap penurunan harga bahan bakar global. Richard Blumenthal mengecam keras keputusan Trump, menilai bahwa presiden mengabaikan mayoritas masyarakat Amerika, perwakilan mereka di Kongres, serta sekutu AS di Eropa. “Keputusan untuk memberikan pengecualian ini tidak ada hubungannya dengan keamanan nasional kita,” tegas Blumenthal.

Hubungan dengan Ukraina

Gedung Putih belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan penundaan sanksi tersebut. Namun, surat pemberitahuan resmi telah dikirimkan ke Kongres. Di sisi lain, hubungan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dilaporkan semakin tegang, dengan Trump mengkritik Zelenskyy karena dinilai gagal mencapai kesepakatan damai dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Paket sanksi yang ditunda ini sebelumnya mendapat dukungan luas dari DPR dan Senat AS setelah kematian Senator Graham pada Juli lalu. Sebelum wafat, Graham dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Trump yang paling gencar mendorong pengetatan sanksi ekonomi terhadap Rusia.