Media Kampung – Harga minyak mentah berpotensi mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut di tengah meningkatnya risiko pasokan dari Timur Tengah. Kondisi ini terjadi meski sejumlah negara bersiap menuntaskan pelepasan cadangan minyak darurat untuk mengurangi gejolak harga energi. Mengutip dari Bloomberg pada Jumat (16/10), harga minyak mentah Brent diperdagangkan kisaran USD 106 per barel, naik hampir 1 persen sepanjang pekan ini. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD 97 per barel.

Ketidakpastian pemulihan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia turut menopang harga. Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) pada Kamis mengonfirmasi sebuah kapal kontainer yang tenggelam di Selat Hormuz pada pekan ini terkena proyektil Iran. Kapal berbendera Singapura bernama GFS Pride tersebut tenggelam saat ditarik menuju pantai setelah terkena proyektil yang ditembakkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menurut US Central Command. Meski demikian, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih berlangsung. Lebih dari 40 kapal dilaporkan melintasi jalur tersebut dalam 24 jam terakhir.

Di tengah risiko gangguan pasokan, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) berkomitmen menuntaskan pelepasan 100 juta barel minyak yang masih tersisa dari intervensi pada Maret lalu. Sementara, Presiden AS Donald Trump berupaya menekan harga bensin dan solar yang melonjak di dalam negeri. Kenaikan biaya energi akibat perang AS dengan Iran juga menjadi salah satu perhatian pemilih menjelang pemilihan paruh waktu AS pada bulan depan.

Namun, upaya penambahan pasokan melalui cadangan darurat belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah. Analis Eurasia Group bahkan memperkirakan konflik berpotensi meningkat. Dalam catatannya, mereka menaikkan peluang eskalasi konflik menjadi 65 persen dari sebelumnya 35 persen. “Konflik kemungkinan akan meningkat,” tulis analis Eurasia Group.

Harga WTI Menguat Lebih Cepat

Kenaikan harga WTI tercatat lebih tinggi dibandingkan Brent sepanjang pekan ini sehingga mempersempit selisih harga kedua acuan minyak tersebut. Salah satu faktor yang mendukung permintaan minyak AS adalah penurunan biaya pengiriman. Berdasarkan data Baltic Exchange di London, biaya pengiriman satu kargo minyak mentah AS dari Pantai Teluk Meksiko menuju Rotterdam, Belanda, turun sekitar 12 persen dalam sepekan terakhir.

Dari sisi persediaan, stok minyak mentah AS mengalami penurunan 8,6 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak Februari. Penurunan stok dipengaruhi oleh penghentian sementara produksi akibat Badai Isaias, tingginya aktivitas pengolahan minyak di kilang, serta peningkatan ekspor. Sementara itu, persediaan minyak distilat, termasuk bahan bakar seperti solar, berkurang 2,5 juta barel dan mencapai level terendah untuk periode yang sama secara musiman.