Media Kampung, Jakarta – Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa subsidi energi untuk LPG 3 kilogram dapat menembus Rp 100 triliun pada tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya konflik geopolitik, termasuk antara Israel-Palestina, Rusia-Ukraina, dan AS-Iran, yang mengakibatkan ketidakpastian dalam pasokan energi.

Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi tantangan terkait dengan kenaikan nilai impor migas, khususnya LPG. Konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,9 juta ton. “Kapasitas produksi kita di dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun. Jadi kita harus mengimpor sekitar 7 sampai 8 juta ton setiap tahun,” jelasnya saat peresmian Kilang LPG Cilamaya.

Menurut asumsi makro Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel, subsidi energi untuk LPG 3 kg ditetapkan sebesar Rp 87 triliun. Namun, saat ini, rata-rata ICP telah melebihi USD 100 per barel. “Dengan ICP rata-rata di angka USD 90 sampai 100, subsidi kita dapat mencapai hampir Rp 100 triliun. Ini mengakibatkan devisa kita banyak yang keluar dan bisa kita subsidi kepada rakyat dengan jumlah yang besar,” tambah Bahlil.

Bahlil juga menekankan pentingnya Indonesia untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya. Saat ini, Indonesia mampu memproduksi liquified natural gas (LNG), dengan 30 persennya diekspor, namun bahan baku untuk LNG berbeda dengan LPG yang harus diimpor. “LNG yang kita produksi memenuhi kebutuhan dalam negeri, bahkan kita ekspor 30 persen. Namun, bahan baku untuk LPG masih harus diimpor,” ucap Bahlil.

Kebutuhan LPG yang besar terutama dirasakan di DKI Jakarta dan Jawa Barat, dengan volume mencapai 1.500 ton per hari. Sekitar 15 persen pasokan LPG dapat dipenuhi oleh Kilang LPG Cilamaya yang dioperasikan oleh PT Energi Nusantara Perkasa. “Untuk daerah Jakarta-Jawa Barat, kebutuhan LPG per hari kurang lebih 1.000 sampai 1.500 ton. Saat ini, kilang ini dapat memproduksi sekitar 160 ton, yang berarti memenuhi 10 sampai 15 persen dari konsumsi LPG di kawasan ini,” tuturnya.