Media Kampung, Kuala Lumpur – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah mencapai beberapa daerah di Malaysia, termasuk Kuala Lumpur dan Singapura. Sektor perhotelan, khususnya di Kuala Lumpur, merasakan dampak signifikan dari kondisi ini. Derrick Felix, General Manager Hotel Courtyard by Marriott Kuala Lumpur South, mengungkapkan bahwa okupansi hotelnya turun antara 20 hingga 30 persen. “Memang ada dampak. Jika ditanya seberapa besar, perkiraan saya sekitar (okupansi menjadi) 20 sampai 30 persen. Angka itu bukan kecil. Misalnya, jika tingkat okupansi seharusnya 80 persen lalu turun 30 persen,” jelasnya saat ditemui pada 14 Oktober 2026.

Derrick juga menjelaskan bahwa meskipun ada tamu yang telah melakukan pemesanan, pihak hotel tetap melakukan langkah-langkah untuk melindungi kesehatan para tamu. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengimbau tamu untuk membatasi aktivitas di luar ruangan karena kondisi udara yang tidak sehat.

Indeks Kualitas Udara (AQI) di Kuala Lumpur telah mencapai angka 245, yang dikategorikan sebagai sangat tidak sehat. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan lingkungan sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat.

Dalam respons terhadap situasi ini, Menteri Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah berkomunikasi dengan Malaysia tentang langkah-langkah penanganan yang dilakukan untuk mengatasi karhutla. “Kita sudah menerjunkan lebih dari 60.000 personel dan mengerahkan puluhan helikopter serta pesawat untuk melakukan pemadaman dari udara,” ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa kondisi cuaca saat ini menjadi tantangan dalam penanganan karhutla.

Dengan kondisi yang ada, hotel-hotel di Kuala Lumpur harus beradaptasi dengan cepat untuk menjaga kesehatan dan keselamatan para tamu, serta mempertahankan tingkat okupansi mereka di tengah tantangan kabut asap ini.