Media Kampung, India – Krisis batu bara di India menyebabkan pemadaman listrik massal yang berdampak pada pabrik-pabrik, fasilitas peleburan, hingga rumah tangga. Kenaikan biaya energi juga terjadi karena penurunan stok batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Musim hujan terlemah sejak 2015 membatasi produksi tenaga air, sementara cuaca yang lebih panas dari biasanya telah meningkatkan permintaan akan pendingin ruangan dan irigasi pertanian.
PLTU yang memasok sekitar dua pertiga listrik India, dengan cepat menghabiskan persediaan mereka. Pabrik-pabrik kecil, petani, dan rumah tangga menghadapi pemadaman listrik karena permintaan melebihi pasokan di jaringan listrik. Pelanggan industri besar seperti peleburan logam, kimia, dan kertas tidak dapat memperoleh cukup bahan bakar untuk menghasilkan listrik sendiri. Hal ini disebabkan perusahaan tambang milik negara, Coal India Ltd., memprioritaskan pengiriman ke generator yang terhubung ke jaringan listrik.
Contohnya, pabrik baja kecil di negara bagian Chhattisgarh bagian tengah menghadapi pemadaman listrik selama 10 hingga 12 jam sehari, yang memaksa pabrik-pabrik tersebut untuk mengurangi produksi. Sekretaris jenderal Asosiasi Pabrik Baja Mini Chhattisgarh, Manish Dhuppad, mengatakan bahwa pabrik tersebut membutuhkan pasokan listrik yang tidak terputus. “Misalnya, kita memiliki logam panas di dalam tungku dan tepat sebelum kita dapat mengeluarkannya, pasokan listrik terputus. Pada saat listrik kembali, material tersebut telah mengeras dan kita perlu melelehkannya lagi,” jelasnya.
Kekurangan listrik ini menyoroti semakin besarnya peran cuaca ekstrem terhadap perekonomian India. Musim hujan yang lemah akibat El Nino memecahkan rekor baru, hal ini juga menunjukkan bagaimana ketergantungan negara tersebut pada bahan bakar fosil membatasi kemampuannya untuk merespons perubahan iklim.
Kementerian Energi India menuturkan pasokan bahan baku di hampir setengah dari PLTU di India telah turun hingga kurang dari seperempat dari tingkat yang dibutuhkan. Curah hujan monsun yang terlambat bulan lalu di wilayah pertambangan batu bara di bagian timur negara itu memperburuk kekurangan tersebut, menghambat produksi dan juga mengganggu transportasi bahan bakar melalui kereta api.
Sementara di negara bagian Punjab di utara, rumah-rumah dan industri mengalami pemadaman listrik yang berkepanjangan. Badish Jindal, yang mengelola pabrik kawat baja di Ludhiana, mengatakan bahwa pemadaman listrik yang sering terjadi selama tiga hingga empat jam telah mengakibatkan biaya energi yang lebih tinggi, karena pabriknya perlu beralih ke generator cadangan yang mahal. “Pemadaman listrik tidak terjadwal. Hal itu menyulitkan perencanaan operasional dan pengiriman kami serta memengaruhi kualitas produk. Penghentian dan penyalaan kembali mesin secara tiba-tiba saat pasokan listrik padam dan menyala kembali juga meningkatkan risiko kecelakaan,” tuturnya.
Jaringan listrik di India menghadapi kekurangan rata-rata hampir 4 gigawatt (GW) per hari dalam 10 hari pertama Oktober. Jumlah tersebut cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 2 juta rumah tangga pedesaan di India. Sekretaris jenderal Asosiasi Produsen Listrik Mandiri India, Rajiv Agarwal, mengungkapkan kebijakan yang mengutamakan pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan listrik telah membuat perusahaan yang menghasilkan listrik tenaga batu bara sendiri berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Di sisi lain, premi rata-rata pada penjualan spot Coal India pada September melonjak menjadi 94 persen di atas harga dasar, dibandingkan dengan selisih 59 persen pada Agustus. Bagi mereka yang mendapatkan listrik dari jaringan listrik umum, tagihan listrik telah meningkat di sebagian besar negara bagian India selama beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kenaikan harga batu bara dan biaya peningkatan jaringan listrik nasional.
Di Uttar Pradesh, beberapa desa di distrik Shamli menghadapi pemadaman listrik hingga tujuh jam sehari, mendorong banyak penduduk untuk membeli sistem cadangan yang dapat menjalankan lampu dan kipas angin. Perkembangan pesat energi surya di negara itu selama beberapa tahun terakhir berarti ada cukup daya baginya untuk mengairi ladangnya di siang hari, meskipun masalah muncul setelah matahari terbenam. “Kami entah bagaimana bisa beradaptasi. Kekhawatiran terbesar saya adalah kenaikan biaya listrik,” kata seorang petani gandum dan tebu setempat.














