**Media Kampung** – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengangkat Thomas Sugiarto Oentoro menjadi Direktur Utama, menggantikan Glenny H. Kahuripan. Thomas ditetapkan sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Kamis (8/10). Ia sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama sejak Oktober 2025.

Sementara itu, Glenny melanjutkan mandatnya sebagai Komisaris Utama, menggantikan Fadjar Prasetyo. Head of Corporate Communications Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah, mengatakan bahwa pergantian kepemimpinan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat momentum perbaikan kinerja Garuda, seiring dengan pertumbuhan pendapatan, pemulihan armada, dan penyusutan kerugian.

“Kesinambungan transformasi menjadi perhatian untuk memastikan pemulihan bisnis terus diikuti dengan penguatan kondisi keuangan dan operasional perusahaan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima media.

Latar Belakang Thomas Sugiarto Oentoro

Sebelum menjabat Wakil Direktur Utama, Thomas merupakan Komisaris Independen Garuda Indonesia pada 2023-2024. Pengalaman di tingkat pengawasan dan pengurusan memberinya perspektif terhadap proses pembenahan dan tantangan yang dihadapi perusahaan.

Thomas sebelumnya menjabat sebagai Chief Risk Officer di Indonesia Investment Authority (INA) pada 2024-2025. Karirnya juga mencakup posisi sebagai Vice President Mezzanine Capital Unit di OCBC dan Managing Director di KV Asia Capital. Ia menempuh pendidikan di bidang keuangan di NYU Stern School of Business dan meraih gelar MBA dari University of Chicago Booth School of Business.

Penguatan Tim Direksi

Bersamaan dengan penunjukan Thomas, susunan pengurus Garuda diperkuat oleh sejumlah profesional dengan pengalaman internasional di jajaran direksi maupun dewan komisaris. Posisi Direktur Komersial diisi oleh Alan McIntyre, yang memiliki pengalaman sebagai Executive Manager Strategy di Qantas Group serta Chief Customer and Commercial Officer di Jetstar. Pengalaman tersebut relevan untuk mendukung penguatan strategi jaringan dan pengelolaan pendapatan.

Pada jajaran Dewan Komisaris, Jaan Albrecht dan Trey Urbahn ditunjuk sebagai Komisaris Independen. Jaan memiliki rekam jejak sebagai CEO Saudia Airlines, Austrian Airlines, dan Star Alliance. Sementara itu, pengalaman Trey mencakup peran penasihat di sejumlah perusahaan penerbangan, termasuk Spirit Airlines, Etihad Airways, serta TAP Air Portugal.

Kinerja Garuda Indonesia Group

Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan USD 1,80 miliar sepanjang semester I 2026, meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi USD 113 juta, sementara laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT tumbuh 12,7 persen menjadi USD 74 juta. Perbaikan ini berlangsung di tengah kenaikan beban avtur sebesar 43,6 persen.

Dari sisi operasional, jumlah armada operasional Garuda Indonesia Group mencapai 104 pesawat hingga akhir Juni 2026. Ketersediaan pesawat menjadi penopang penguatan jaringan Garuda dan Citilink, peningkatan frekuensi penerbangan serta pemenuhan permintaan perjalanan.

“Dengan agenda penyehatan yang masih berlanjut, tantangan kepemimpinan Thomas adalah menerjemahkan momentum pemulihan menjadi perbaikan keuangan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing Garuda sebagai maskapai nasional,” tandas Dicky.