Media Kampung – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengungkapkan bahwa perdagangan Amerika Serikat (AS) terdampak akibat lemahnya nilai tukar yen. Hal ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi NTV, di mana Takaichi menjelaskan bahwa dalam pertemuan antara para pemimpin Jepang dan AS, masalah ini menjadi salah satu topik utama yang dibahas. Takaichi menekankan pentingnya menjaga nilai tukar yen agar tidak terlalu rendah, yang dapat menimbulkan kesulitan bagi perdagangan AS.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga menyoroti bahwa Presiden Trump telah menyampaikan kekhawatirannya mengenai pelemahan yen dalam pertemuan tingkat tinggi. Menurut Katayama, Trump menganggap bahwa nilai tukar yen yang rendah dapat memberikan dampak negatif bagi perekonomian AS.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah menunjukkan kekhawatirannya terhadap pelemahan yen, dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menyarankan agar Bank Sentral Jepang (BoJ) mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga guna memperkuat yen. Bessent berpendapat bahwa fokus Jepang seharusnya adalah memerangi inflasi, bukan hanya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Takaichi, dalam pidatonya, menegaskan komitmennya untuk mengejar perekonomian yang kuat dan keuangan pemerintah yang berkelanjutan. Ia menyatakan, “Tidak ada perubahan dalam pemikiran saya bahwa kami akan terus mengejar perekonomian yang kuat dan keuangan pemerintah yang berkelanjutan berdasarkan kebijakan fiskal yang bertanggung jawab.”
Jepang dan AS sebelumnya telah melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing ketika yen diperdagangkan di level 164 yen per dolar AS, yang merupakan langkah bersama pertama dalam 28 tahun terakhir. Tindakan ini dianggap sebagai simbol kerjasama antara kedua negara.
Takaichi juga menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai eksportir Jepang yang bisa memperoleh keuntungan dari lemahnya yen menjadi salah satu faktor yang mendorong dukungan Washington terhadap Tokyo. Dengan adanya pernyataan ini, jelas bahwa isu nilai tukar yen bukan hanya menjadi perhatian Jepang, tetapi juga AS, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap perdagangan internasional.














