Media Kampung – 09 April 2026 | Gubernur Banten Andra Soni memimpin pelepasan 21 pemuda yang akan menjalani program magang pertanian di Jepang. Program ini diharapkan menjadi sarana transfer ilmu modern ke sektor pertanian daerah.
Kelompok tersebut terdiri dari petani muda yang telah terpilih melalui seleksi ketat oleh Dinas Pertanian Banten. Mereka akan menghabiskan tiga bulan di ladang dan fasilitas riset pertanian Jepang.
Selama masa magang, peserta akan mempelajari teknik budidaya presisi, penggunaan sensor tanah, serta manajemen kebun organik yang telah terbukti meningkatkan hasil panen. Pengetahuan ini diharapkan dapat diadaptasi di lahan Banten.
Andra Soni menegaskan bahwa tujuan utama pengiriman ini bukan sekadar belajar, melainkan untuk memastikan para peserta kembali dan mengaplikasikan ilmu di tanah kelahiran. “Mereka harus pulang dan membangun pertanian Banten,” ujarnya.
Pernyataan gubernur tersebut disampaikan dalam upacara resmi di Istana Kepemudaan Serang, yang dihadiri pejabat daerah, perwakilan lembaga pertanian, dan keluarga peserta. Acara itu juga menandai komitmen provinsi dalam program revitalisasi pertanian.
Program magang ini merupakan kelanjutan dari beberapa inisiatif serupa yang dilaksanakan pemerintah provinsi sejak 2020, termasuk kunjungan ke Korea Selatan dan Belanda. Setiap kali, hasilnya dinilai meningkatkan adopsi teknologi di kalangan petani lokal.
Pemerintah Banten menyiapkan dana sebesar 2 miliar rupiah untuk menutupi biaya transportasi, akomodasi, dan asuransi peserta selama berada di Jepang. Dana tersebut diambil dari alokasi khusus pengembangan pertanian.
Selain teknis pertanian, para pemuda juga akan menerima pelatihan bahasa Jepang dan etika kerja yang berlaku di perusahaan agribisnis Jepang. Hal ini dianggap penting agar mereka dapat berkomunikasi efektif dengan mentor di sana.
Kedatangan kelompok magang dijadwalkan pada awal Mei, tepat sebelum musim tanam padi di Banten dimulai. Jadwal tersebut dipilih agar peserta dapat menerapkan pengetahuan baru pada musim tanam berikutnya.
Sebagai bagian dari kesepakatan, pihak Jepang menyiapkan fasilitas riset yang meliputi laboratorium mikrobiologi tanah dan greenhouse otomatis. Kerjasama ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.
Pengamat sektor agrikultur menilai program ini sebagai langkah strategis mengatasi masalah produktivitas rendah dan ketergantungan pada impor. Transfer teknologi diharapkan menurunkan biaya produksi petani Banten.
Namun, beberapa pihak mengingatkan pentingnya keberlanjutan setelah magang selesai, termasuk pendanaan bagi petani yang ingin mengadopsi teknologi tinggi. Tanpa dukungan lanjutan, manfaat jangka panjang dapat terhambat.
Pemerintah provinsi telah menyiapkan mekanisme monitoring pasca‑magang, meliputi laporan bulanan dan pendampingan teknis oleh tim ahli pertanian. Dengan demikian, hasil belajar diharapkan terukur dan terimplementasi secara luas.
Jika semua rencana berjalan, Banten dapat menjadi contoh sukses daerah yang memanfaatkan program internasional untuk memperkuat ketahanan pangan. Keberhasilan 21 pemuda ini akan menjadi tolak ukur kebijakan serupa di masa depan.
Antisipasi terhadap tantangan iklim juga menjadi bagian dari kurikulum, di mana peserta akan mempelajari varietas padi tahan kekeringan dan teknik irigasi efisien. Pengetahuan ini diharapkan memperkuat adaptasi petani Banten terhadap perubahan cuaca.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan