Media Kampung – 08 April 2026 | Purbaya dan Danantara mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Selasa untuk menjelaskan posisi masing‑masing terkait kepemilikan proyek Kereta Cepat Whoosh yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Pernyataan itu menegaskan bahwa kedua pihak tengah berupaya menyelesaikan sengketa kepemilikan yang telah menimbulkan kebingungan di kalangan investor dan publik.

Kereta Cepat Whoosh, yang dijadwalkan meluncur pada akhir 2027, merupakan proyek infrastruktur strategis dengan nilai investasi lebih dari tiga ratus miliar dolar. Proyek ini digagas melalui kemitraan antara pemerintah Indonesia, konsorsium perusahaan domestik, dan investor asing, termasuk perusahaan teknologi transportasi asal China.

Sebelumnya muncul spekulasi bahwa kepemilikan mayoritas berada di tangan satu entitas, yang kemudian memicu pertanyaan tentang legalitas kontrak dan keabsahan lisensi operasional. Ketidakjelasan tersebut dianggap menghambat proses tender selanjutnya dan menurunkan kepercayaan pasar terhadap kelangsungan proyek.

Purbaya menegaskan bahwa perusahaan mereka tidak mengklaim kepemilikan penuh atas aset Whoosh, melainkan berperan sebagai salah satu pemegang saham strategis. Ia menambahkan bahwa hak suara dalam dewan pengarah dibagi secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal masing‑masing pihak.

Danantara, di sisi lain, menyatakan bahwa mereka memiliki bagian ekuitas yang signifikan tetapi tidak bersifat eksklusif. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan semua mitra demi mencapai tujuan bersama tanpa mengorbankan prinsip tata kelola yang baik.

‘Kami selalu terbuka untuk dialog konstruktif dan siap menandatangani perjanjian yang mengikat bila diperlukan,’ ujar Purbaya dalam konferensi pers. Ia menekankan pentingnya menyelesaikan persoalan ini secepat mungkin demi menjaga kestabilan finansial proyek.

‘Kepemilikan yang jelas adalah prasyarat utama bagi kelancaran pembangunan, dan kami berkomitmen untuk menyesuaikan struktur kepemilikan sesuai hasil kesepakatan,’ kata Danantara. Pernyataan itu menegaskan niat perusahaan untuk menyesuaikan pembagian saham bila diperlukan.

Para analis menilai bahwa penyelesaian sengketa kepemilikan dapat mempercepat proses perizinan dan memungkinkan pencairan dana tambahan dari lembaga keuangan internasional. Jika negosiasi berhasil, estimasi percepatan penyelesaian fase konstruksi dapat mengurangi penundaan hingga enam bulan.

Kementerian Perhubungan menanggapi pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintah tetap mendukung penuh proyek Whoosh asalkan semua pihak mematuhi regulasi yang berlaku. Menteri Transportasi menambahkan bahwa isu kepemilikan akan dipantau secara berkala untuk menghindari potensi konflik di masa mendatang.

Pasar modal merespon secara positif; indeks saham sektor infrastruktur mencatat kenaikan 1,2% pada sesi perdagangan hari itu. Kenaikan ini mencerminkan harapan investor bahwa klarifikasi kepemilikan akan menstabilkan arus investasi dan mengurangi risiko proyek.

Dengan dialog yang terus berlangsung, Purbaya dan Danantara berharap dapat menghasilkan kesepakatan final sebelum akhir tahun fiskal. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi landasan bagi percepatan realisasi Kereta Cepat Whoosh, yang menjadi simbol modernisasi transportasi di Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.