Media Kampung, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR, Daniel Johan, mengusulkan pemerintah membangun kamp tertutup yang bebas dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk melindungi masyarakat terdampak. Kamp tersebut diusulkan menjadi tempat evakuasi sementara, terutama bagi anak-anak, orang tua, dan warga yang tidak lagi mampu bertahan di tengah paparan asap. Daniel menyebut kamp itu sebagai “surga sementara” bagi masyarakat yang saat ini harus hidup dalam kondisi memprihatinkan akibat karhutla.

“Iya, jadi ada kalau langkah evakuasi baik-baik. Tapi kalau semuanya kena asap, gimana? Mau enggak mau kan dibangun camp, ya. Jadi camp itu adalah surga sementara, karena sekarang masyarakat hidup di tengah neraka,” kata Daniel di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/10).

Daniel juga meminta pemerintah memprioritaskan keselamatan masyarakat terdampak karhutla. Salah satu langkah mendesak, menurut dia, ialah menyediakan masker gratis bagi masyarakat dan sukarelawan agar mereka tidak perlu membelinya dengan harga mahal. “Pastikan pelayanan kesehatan, ya, oksigen, perawatan, khususnya kepada anak-anak dan orang tua. Saya enggak tahu apakah ada tempat yang layak, sehingga khusus anak-anak dan orang tua mungkin juga harus dievakuasi, ya, untuk menyelamatkan mereka,” jelas Daniel.

Ia mengingatkan dampak El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember. Daniel khawatir kondisi karhutla yang sudah parah akan semakin memburuk jika pemerintah tidak segera mengambil langkah penanganan. “Karbon yang dikeluarkan itu semakin banyak, akhirnya mempengaruhi anomali cuaca. Puncaknya Desember, bahkan kalau mudah-mudahan tidak terjadi, bisa sampai Maret tahun depan. Kalau sekarang saja sudah seperti ini, gimana masih sampai Desember? Puncaknya itu berarti El Nino panasnya semakin tinggi loh, bukannya semakin rendah, gitu. Mau dari Sabang sampai Merauke terbakar,” tutur Daniel.

Daniel meminta pemerintah tidak ragu menerima bantuan internasional untuk menangani karhutla, terutama melalui solidaritas negara-negara ASEAN. “Jangan memikirkan ini hanya bantuan, tetapi ini juga tanggung jawab, ya, karena bahkan 54, banyak perusahaan-perusahaan yang mendapatkan konsesi perkebunan yang menjadi salah satu yang menyumbang persoalan saat ini, itu dari khususnya dari Singapura dan Malaysia,” jelas Daniel.

Daniel juga menyoroti kesulitan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar di tengah bencana. Ia meminta pemerintah mengambil tindakan nyata, termasuk memastikan distribusi air bersih bagi warga yang kesulitan mendapatkan air minum. “Yang ada pilihan harus jujur, karena kan mau mau tidak jujur pun faktanya masyarakat menderita. 2-3 bulan yang lalu baru Kalimantan, sekarang sudah Sumatra, sudah Papua sekarang puncaknya, sudah Maluku, sudah sebagian Sulawesi, ya. Entar Jawa habis ini kena. Jawa habis ini kena, karena justru El Nino terdampak besar itu nanti daerah Jawa,” ujarnya.

“Walau fakta di lapangan seperti itu, gitu. Jadi harus segera bertindak kilat, double gardan, full utamanya keselamatan warga-warga terdampak,” sambung Daniel.

Daniel juga mengkritik sikap sejumlah kepala daerah di Kalimantan yang dinilai kurang berempati terhadap masyarakat terdampak karhutla. Salah satu yang ia soroti ialah Gubernur Kalimantan Timur Rudy Masud, yang disebut menjalani pemeriksaan kesehatan (medical check-up) di Singapura di tengah kondisi tersebut. Ia meminta para pemimpin daerah memahami penderitaan masyarakat dan menghindari tindakan maupun pernyataan yang dapat melukai perasaan warga. “Masyarakat lagi susah, tunjukkan empati. Kalaupun enggak terlalu bisa membimbing, minimal jangan nyakitin hati masyarakat, ya. Tapi dengan melihat apa profil kepemimpinan saat ini yang di Kalimantan, wah kita kasian dengan masyarakat Kalimantan. Dengan menderita gitu, malah foto-foto di Singapura. Mau jadi apa, gitu kan? Apa yang bisa kita harapkan dengan pemimpin kayak begitu?” tegas Daniel.