Media Kampung – Salah satu jenis hewan yang sering kita temukan di rumah adalah tokek. Banyak yang percaya bahwa kehadiran tokek membawa pertanda khusus, dan jumlah bunyi yang dihasilkannya dipercaya memiliki makna tertentu. Berikut adalah penjelasan mengenai arti bunyi tokek menurut Primbon Jawa dan pandangan Islam.

Tentang Tokek Menurut Primbon Jawa

Secara umum, suara tokek dalam Primbon Jawa diartikan sebagai tanda kehadiran makhluk halus. Jika terdengar dari dekat, diyakini ada makhluk halus di kejauhan, sedangkan jika dari jauh, itu menandakan makhluk halus berada di sekitar kita. Berikut adalah beberapa makna suara tokek berdasarkan jumlah bunyi yang dikeluarkannya:

  • Bunyi 1x (Sida Karya): Sukses dalam hal pekerjaan.
  • Bunyi 2x (Nemu Asing): Saling mengasihi.
  • Bunyi 3x (Suwung Kepanggih): Menemui kesepian.
  • Bunyi 4x (Menemuredut): Akan mendapatkan kesusahan.
  • Bunyi 5x (Sangging Suka): Mendapatkan kebahagiaan.
  • Bunyi 6x (Sengkala Gering): Tanda malapetaka.
  • Bunyi 7x (Nemu Ayu): Akan memperoleh kebahagiaan.
  • Bunyi 8x (Ala Gering): Akan mendapatkan keburukan.
  • Bunyi 9x (Sengsara Bera): Mendapatkan kesengsaraan yang tidak ada ujungnya.
  • Bunyi 10x (Wirayaguna): Sangat berguna.
  • Bunyi 11x (Kirang Sekaya): Akan kekurangan harta.
  • Bunyi 12x (Meweh Kepanggih): Akan mendapatkan kesusahan.
  • Bunyi 13x (Loba Bhukti): Memperoleh keberuntungan.
  • Bunyi 14x (Selata Uyut): Akan sering mengalami keributan.
  • Bunyi 15x (Ala Dayat): Buruk sekali.

Pandangan Islam Mengenai Tokek

Dari perspektif Islam, tidak ada makna khusus yang terkait dengan jumlah bunyi tokek. Namun, tokek dianjurkan untuk dibunuh berdasarkan hadits yang menyatakan bahwa hewan ini pernah meniupkan api kepada Nabi Ibrahim. Terdapat dua pendapat di kalangan ulama terkait hal ini. Pertama, sebagian ulama menganggap tokek dan cicak adalah satu jenis, sehingga hukum tokek sama dengan cicak. Kedua, ada pendapat yang menegaskan bahwa yang diharamkan adalah tokek, bukan cicak.

Kesimpulan

Makna bunyi tokek bervariasi menurut kepercayaan masyarakat, khususnya dalam Primbon Jawa, sementara dalam Islam lebih menekankan pada tindakan yang harus dilakukan terhadap hewan tersebut. Dengan memahami kedua pandangan ini, kita dapat lebih menghargai kepercayaan yang berkembang di masyarakat.