Media Kampung, Banyuwangi – Gandrung Sewu 2026 dipastikan akan memberikan kejutan bagi seluruh penonton. Dengan konsep baru yang menampilkan efek glow in the dark, teknologi pencahayaan akan memberikan sentuhan kemilau cahaya warna-warni yang menghiasi para penari gandrung.
Pancaran cahaya kuning, hijau, dan merah memantul dari omprok hingga motif batik berpadu dengan gemulai tariannya. Gambar kecil Gandrung Sewu ditampilkan di amphiteater panggung budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada 14 Oktober 2026. Gandrung Sewu mini show yang ditampilkan oleh 40 penari tersebut merupakan promosi untuk acara yang akan digelar pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Pantai Marina Boom Banyuwangi.
“Saya tidak menyangka penampilan Gandrung Sewu memang akan sekeren ini. Penasaran datang ke sini karena video Gandrung Sewu selama ini selalu viral. Keindahan budaya berpadu dengan kreativitas masa kini. Sebuah pertunjukan yang layak dibanggakan,” ujar Rana, salah satu penonton yang menyaksikan mini show Gandrung Sewu 2026 di TMII Jakarta.
Gandrung Sewu 2026 tahun ini akan mengusung konsep baru. Jika pada penyelenggaraan sebelumnya dilakukan pada siang hari, kali ini tari Gandrung kolosal dihelat pada malam hari. “Konsepnya glow in the dark. Kita kolaborasi dengan InJourney untuk menghadirkan konsep pertunjukan yang baru,” jelas Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Jumat, 16 Oktober 2026.
Inovasi baru dalam pertunjukan Gandrung Sewu ini diyakini akan menyajikan pengalaman luar biasa bagi para penonton. Para penari dihiasi dengan instrumen khusus, sehingga menimbulkan kilauan cahaya di tengah gelapnya malam. “Pastikan kita menjadi saksi sejarah pertunjukan Gandrung Sewu dengan konsep baru ini,” kata Ipuk.
Perubahan konsep tersebut tidak sekadar adaptasi, tetapi juga dipadukan dengan kreativitas baru sebagai bentuk improvisasi. “Kami menyesuaikan sejumlah koreografinya supaya efek kilauan cahaya dari penari Gandrungnya bisa sempurna mengikuti gerakannya,” jelas Koordinator Pelatih Tari Gandrung Sewu, Suko Prayitno.
Improvisasi tersebut, imbuh Suko, tidak mengubah pakem dari tari Gandrung sendiri. Dengan tema “Kembang Dermo”, pembabakan tarian akan tetap menyajikan keluhuran budaya Blambangan. “Justru akan melahirkan pengalaman yang berbeda,” ujarnya.














