Media Kampung, Kuala Lumpur – Di tengah hiruk-pikuk Kuala Lumpur City Center (KLCC), terdapat sebuah kawasan yang tetap mempertahankan kehidupannya sebagai kampung tradisional, yaitu Kampung Baru. Meskipun dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit, Kampung Baru tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang populer di kalangan lokal maupun turis mancanegara.
Ketika mengunjungi Kampung Baru, suasana ramai terlihat pada Rabu (14/10), di mana banyak pengunjung menikmati berbagai kuliner yang ditawarkan. Di dalam kawasan tersebut terdapat area food court yang menawarkan berbagai kedai makan dengan harga terjangkau. Makanan berat seperti nasi goreng, nasi lemak, char kuey teow, dan mee mamak dijual dengan harga rata-rata antara MYR 10 hingga MYR 15, sedangkan minuman berkisar antara MYR 3 hingga MYR 6.
Menurut laman resmi Perbadanan Pembangunan Kampong Bharu (PKB), salah satu alasan mengapa Kampung Baru dapat bertahan di tengah gencarnya pembangunan adalah karena sejak tahun 1965, Pemerintah Negeri Selangor telah memberikan 838 sertifikat hak milik tanah kepada para penghuni. PKB juga berfungsi sebagai koordinator utama dalam pengembangan dan peningkatan kualitas kawasan Kampung Baru, yang resmi beroperasi sejak Juli 2012 berdasarkan Undang-Undang Perbadanan Pembangunan Kampong Bharu 2011.
Dari segi sejarah, Kampung Baru telah ada sejak tahun 1899, berkat inisiatif masyarakat Melayu setempat yang berjuang untuk diakui sebagai permukiman. Melalui Warta Kerajaan Negeri Selangor tertanggal 12 Januari 1900, kampung ini diakui sebagai kawasan cadangan Malay Agricultural Settlement (M.A.S) oleh Sultan Selangor ke-5, DYMM Sultan Alauddin Shah Ibni Almarhum Raja Muda Musa.
Kampung Baru terus beradaptasi dan berkembang, menjadikannya simbol ketahanan budaya dan ekonomi di tengah modernisasi yang cepat di Kuala Lumpur.














