Media Kampung, Jakarta – Pengusaha teknologi dan pendiri DCI Indonesia, Toto Sugiri, mengungkap bahwa kapasitas data center komersial di Indonesia saat ini hanya sekitar 200 megawatt (MW). Dalam acara Indonesia Knowledge Forum (IKF) XV-2026, Toto menyatakan bahwa kapasitas ini masih tertinggal dibandingkan dengan Singapura dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia yang kini mencapai sekitar 280 juta jiwa.
“Data center kita memang masih terbelakang dari volume. Totalnya ada aktif adalah sekitar mungkin 200 megawatt, sekarang 200 megawatt itu mencukupi,” ucap Toto di Jakarta. Ia menambahkan bahwa sebelum perkembangan teknologi AI, kebutuhan kapasitas data center Indonesia sudah mencapai sekitar 2,8 gigawatt (GW), berdasarkan perhitungan yang mempertimbangkan kebutuhan listrik data center sebesar 10-15 watt per kapita.
“Data center waktu itu pun sudah hitungannya dengan 260 juta, sekarang udah 280 juta penduduk, itu Indonesia butuh 2,8 gigawatt size data center tanpa AI,” jelas Toto.
Seiring dengan perkembangan AI, Toto memperkirakan kebutuhan kapasitas data center bisa meningkat hingga empat kali lipat. “Dengan AI, itu easily kita bilang, kita katakan, silakan kali minimum 4 kali. Minimal naik 4 kali dari situ, minimal,” sebutnya.
Toto juga menyoroti besarnya konsumsi energi yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan berbasis AI. Ia memberikan contoh bahwa satu pencarian melalui Google membutuhkan sekitar 0,3 watt-hour di data center, sementara satu permintaan melalui ChatGPT memerlukan sekitar 3 watt-hour, yang berarti 10 kali lipat lebih banyak.
“Satu Google search membutuhkan listrik di data center sekitar 0,3 watt-hour. Satu ChatGPT butuhnya 3 watt-hour, 10 kali lipat lebih. Sebetulnya kan begitu,” terang Toto. Ia menekankan pentingnya dukungan untuk infrastruktur data center agar Indonesia tidak tertinggal dalam era digital ini.














