Media Kampung – OpenAI baru-baru ini merilis data mengenai interaksi kalangan remaja dengan chatbot kecerdasan buatan, ChatGPT. Dalam laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2023, perusahaan yang dipimpin oleh Sam Altman ini mengungkapkan bahwa pengguna usia remaja rata-rata hanya menghabiskan waktu kurang dari 15 menit per hari di platform ChatGPT.

Data ini menunjukkan bahwa kurang dari 2 persen remaja menggunakan chatbot selama lebih dari tiga jam berturut-turut. Laporan ini muncul di tengah perhatian masyarakat yang semakin meningkat terhadap dampak kecerdasan buatan terhadap kesehatan mental anak muda.

Pemanfaatan untuk Kebutuhan Edukasi

OpenAI menegaskan bahwa remaja cenderung memanfaatkan ChatGPT untuk kebutuhan edukasi, bukan untuk konsumsi pasif seperti di media sosial. Efektivitas fitur keamanan juga terlihat ketika hampir separuh pengguna remaja mengakhiri sesi obrolan dalam waktu lima menit setelah pengingat istirahat muncul di layar.

Fitur-fitur Baru

Dalam upaya mendukung kebutuhan belajar, OpenAI mencatat bahwa akun versi remaja, yang dikenal sebagai ChatGPT for Teens, mengirim sekitar 2,7 juta pesan edukasi lebih banyak dibandingkan dengan akun reguler. Para siswa aktif memanfaatkan fitur Learning Visualizations untuk memahami konsep-konsep matematika dan sains, serta menggunakan Study Mode untuk pendampingan belajar bertahap.

Menanggapi tren tersebut, OpenAI juga menyiapkan fitur College Planner untuk membantu siswa dalam merancang persiapan masuk perguruan tinggi, melacak tenggat pendaftaran, dan mengurus bantuan finansial. Selain itu, fitur pembuatan kuis interaktif dan kartu belajar (flashcards) yang secara otomatis mengubah catatan foto menjadi modul belajar juga telah disematkan.

Kritik dan Tanggapan

Kendati OpenAI membatasi topik sensitif pada akun di bawah usia 18 tahun, sistem pengawasan ini mendapatkan kritik dari lembaga nirlaba Common Sense Media. Dalam laporannya, lembaga tersebut menemukan bahwa ChatGPT for Teens seringkali terlambat atau bahkan gagal memberikan notifikasi kepada orang tua ketika akun anak membahas topik berbahaya, seperti bunuh diri, tindakan melukai diri sendiri, atau gangguan makan.

Pengujian independen tersebut juga menyoroti bahwa chatbot tidak selalu menyarankan saluran bantuan krisis profesional saat percakapan berbahaya berlangsung. Menanggapi temuan ini, OpenAI menyatakan bahwa pengujian pihak ketiga tidak sepenuhnya mencerminkan cara kerja sistem perlindungan mereka, karena proses integrasi akun orang tua dan anak membutuhkan waktu untuk validasi demi keamanan.

“Sebagian besar pengujian mereka mungkin telah dimulai dan selesai sebelum aktivasi kontrol orang tua rampung,” ujar juru bicara OpenAI, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.

OpenAI menjelaskan bahwa sistem membutuhkan beberapa jam untuk menautkan akun serta mengaktifkan filter peringatan secara penuh. Perusahaan berkomitmen untuk terus mengevaluasi sistem perlindungan anak dan memperluas kolaborasi dengan institusi kesehatan anak guna memperkuat literasi dan keamanan AI bagi generasi muda.