Keamanan berbasis manusia adalah paradigma keamanan yang menjadikan manusia sebagai titik pusat tujuan keamanan negara. Bukan semata-mata keamanan wilayah dan rejim. Artinya, negara tetap penting sebagai penyedia keamanan. Tapi, negara adalah instrumen. Manusia tetap menjadi tujuan akhirnya.

Dalam formula United Nations, keamanan berbasis manusia diarahkan pada tantangan yang mengancam survival, livelihood, dan dignity. Sifat responsnya people-centered, comprehensive, context-specific, and prevention-oriented. Keamanan berbasis manusia ini belakangan diyakini makin penting dan urgen. Sebab, sifat ancaman terhadap manusia tak lagi tunggal, tapi majemuk alias polycrisis.

Manusia sekarang dapat sekaligus menghadapi dampak perubahan iklim, bencana, pandemi, disrupsi ekonomi, disinformasi informasi, kerentanan digital, konflik, dan lain-lain. Karena aneka ragam dampak itu dapat saling memperkuat, maka keamanan yang hanya berorientasi pada pertahanan negara tak akan cukup menangkap sumber insecurity yang dialami manusia.

Jadi, jika negara aman, tapi manusianya dihantui rasa takut, kehilangan akses dasar, makin banyak yang miskin, dan kehilangan kemampuan menentukan masa depannya, maka sesungguhnyalah keamanan negara belum sepenuhnya menjadi keamanan manusia.

Prinsip Dasar Keamanan Berbasis Manusia

Menarik untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar yang membingkai keamanan berbasis manusia dalam konteks negara era sekarang. Mulai dari prinsip interkonektivitas dan komprehensif. Di mana ancaman modern saling terikat. Misalnya, kerusakan lingkungan akan memicu krisis pangan dan krisis air bersih. Ujungnya akan mendorong migrasi paksa, dan munculnya ketidakstabilan sosial-politik. Dengan demikian, keamanan suatu negara harus memetakan dan merespons ancaman secara menyeluruh. Bukan sebatas sektoral.

Prinsip berikutnya adalah perlindungan dan pemberdayaan. Di mana keamanan dicapai melalui dua pendekatan secara simultan dan sejajar. Pendekatan top-down dari negara untuk melindungi masyarakat (protection). Dan, pendekatan penguatan kapasitas bottom-up agar masyarakat mandiri, dan mampu beradaptasi terhadap krisis (empowerment).

Prinsip penjurunya adalah people-first. Di mana manusia merupakan tujuan akhir keamanan. Setiap kebijakan keamanan harus melihat pengalaman kelompok manusia yang rentan, agar selalu selaras dengan nilai perihal survival, livelihood, dan dignity.

Cara Memperkuat Keamanan Berbasis Manusia

Adapun cara paling efektif untuk memperkuat pelembagaan keamanan berbasis manusia dalam konteks negara tentu beragam. Tapi yang mengedepan ada tiga cara. Cara pertama adalah menjadikan human security impact assessment sebagai prasyarat kebijakan negara. Dalam hal ini, setiap kebijakan strategis negara, yang berdampak langsung atau tidak langsung terhadap manusia, harus selalu diuji. Dengan demikian, keamanan berbasis manusia tak sekadar memuat nilai normatif, tapi juga sekaligus menjadi prosedur administrasi yang wajib.