Media Kampung – Indonesia berhasil meraih lima medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, melampaui target pemerintah. Namun, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, menekankan bahwa pencapaian ini tidak boleh membuat Indonesia cepat berpuas diri.

Menurut Okto, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memperluas prestasi ini ke lebih banyak cabang olahraga dan mempertahankannya dalam jangka panjang. “Lima emas tentu harus kita apresiasi. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana lima emas ini bisa menjadi 10 dan bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite,” ujarnya di Jakarta.

Pada Asian Games 2026, Indonesia mengakhiri kompetisi dengan total 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Lima medali emas tersebut berasal dari empat cabang olahraga: bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.

Okto menilai bahwa hal ini seharusnya menjadi bahan evaluasi. Evaluasi tidak hanya perlu dilakukan terhadap cabang olahraga yang gagal meraih medali, tetapi juga perlu membedah faktor-faktor yang membuat empat cabang tersebut berhasil.

“Kita harus membedah apa yang membuat mereka berhasil, mulai dari pembinaan, scouting, kompetisi, pelatih, sport science, dukungan organisasi, hingga ekosistemnya,” tambahnya.

Raja Sapta Oktohari juga mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan calon atlet. Dengan populasi yang besar dan keberadaan sekolah serta klub olahraga di berbagai daerah, potensi atlet sangat melimpah. Namun, potensi ini belum sepenuhnya ditemukan dan dikembangkan di cabang olahraga yang tepat.

“Talenta itu bukan milik satu cabang olahraga. Itu talenta Indonesia. Jika setelah diuji dengan pendekatan sport science, seorang atlet ternyata lebih cocok di cabang lain, kenapa harus takut memindahkannya?” jelas Okto.

Ia juga mendorong sistem pencarian bakat yang lebih berbasis data, termasuk pengembangan konsep cross-sport talent. Menurutnya, atlet tidak seharusnya terjebak pada satu cabang olahraga jika hasil pemetaan menunjukkan potensi yang lebih besar di cabang lain.

Okto menekankan bahwa pembinaan atlet elite membutuhkan kesinambungan yang mulai dari pelatih, kompetisi, sport science, nutrisi, fasilitas, hingga kedokteran olahraga. Ia meminta agar Indonesia lebih berani menentukan cabang olahraga yang menjadi prioritas, “Kita tidak harus menang di semua cabang olahraga, tetapi kita harus tahu cabang olahraga mana yang harus kita menangi.”