Media Kampung – Ruang kosong di mal kelas menengah hingga bawah di kawasan Bodetabek mencapai angka yang mengejutkan, yaitu 96%. Hal ini diungkapkan oleh Ferry Salanto, Kepala Riset Colliers Indonesia, dalam sebuah konferensi daring.

Ferry menyatakan bahwa hampir 90 persen ruang kosong di pasar retail Jakarta dan Bodetabek berasal dari kelompok mal tersebut, menunjukkan adanya ketidakmerataan dalam tingkat kekosongan di berbagai segmen pusat perbelanjaan.

Kondisi Kekosongan di Jakarta dan Bodetabek

Di Jakarta, sekitar 84 persen ruang kosong berasal dari mal kelas menengah hingga bawah. Sementara itu, di Greater Jakarta atau kawasan Bodetabek, porsinya bahkan mencapai 96 persen. “Kalau kita gabungkan antara Jakarta dan di luar Jakarta atau Bodetabek, ya, hampir 90 persen ruang kosong itu berada di mal-mal yang kelas menengah sampai kelas bawah,” ungkap Ferry.

Perbandingan dengan Mal Premium

Ferry menegaskan bahwa tingkat kekosongan yang tinggi ini bukan merupakan masalah yang dihadapi seluruh pasar retail. Mal premium dan kelas menengah atas justru mampu mencatat tingkat okupansi yang mendekati 90 persen. Sementara itu, tingkat okupansi mal kelas menengah hingga bawah berada di kisaran 60 persen.

Penyebab dan Dampak

Menurut Ferry, perbedaan kinerja ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk basis pasar yang sudah terbentuk, ekosistem tenant yang solid, dan keberadaan merek-merek yang mampu menarik pengunjung. “Artinya memang pasar mereka itu sudah terbentuk secara kuat, customer base-nya juga jelas, dan tenant ecosystem juga solid,” jelasnya.

Di sisi lain, mal dengan kinerja yang lebih lemah menghadapi tantangan serius. Penurunan kualitas pengalaman berbelanja membuat tenant semakin selektif untuk masuk. “Pengalaman-pengalaman belanjanya melemah, kemudian tenant juga semakin selektif untuk masuk, traffic berkualitas juga berkurang, dan akhirnya memang sulit menarik tenant-tenant baru,” tutup Ferry.