Media Kampung, Banyuwangi – Tumpukan serbuk kayu mungkin terlihat seperti limbah yang tidak lagi memiliki nilai. Namun, di tangan pengrajin AIKO Craft Banyuwangi, sisa proses produksi tersebut justru mulai dilihat sebagai peluang. Setiap hari, aktivitas produksi kerajinan berbahan kayu menghasilkan serbuk kayu dalam jumlah cukup besar.
Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini dapat menumpuk di sekitar area produksi, menghasilkan debu kayu, bahkan berpotensi mencemari udara apabila dibakar secara konvensional. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), limbah tersebut kini diarahkan untuk diolah menjadi wood pellet, bahan bakar biomassa yang dapat menjadi salah satu alternatif energi terbarukan.
Program bertajuk “Model PKM Berkelanjutan Pengolahan Limbah Serbuk Kayu Menjadi Wood Pellet Berbasis Green Technology yang Ramah Lingkungan di AIKO Craft Banyuwangi” ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga mendorong terciptanya nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Ketua Pengabdian, Muhdar, mengatakan program ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan limbah, tetapi juga bagaimana teknologi dapat memberikan nilai tambah bagi mitra dan masyarakat sekitar. “Kami ingin limbah serbuk kayu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan,” ujar Muhdar.
Pengolahan dilakukan dengan dukungan teknologi tepat guna. Salah satunya melalui pembuatan mesin penghancur kayu untuk mempersiapkan bahan baku, serta rotary dryer yang digunakan dalam proses pengeringan wood pellet. Teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam mengubah sisa produksi menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Dengan pendekatan green technology, limbah biomassa yang sebelumnya kurang termanfaatkan dapat kembali masuk ke dalam rantai produksi. Tidak berhenti pada aspek teknologi, program ini juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada mitra. Masyarakat diberikan pengetahuan mengenai proses produksi, pemanfaatan limbah kayu, hingga pemasaran produk.
Pelatihan digital marketing juga menjadi bagian dari program agar produk yang dihasilkan tidak hanya berhenti di tingkat produksi, tetapi dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui berbagai kanal pemasaran digital. Muhdar menambahkan, keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian utama.
Karena itu, kegiatan tidak berhenti pada pembuatan alat dan produksi wood pellet, tetapi dilanjutkan dengan pelatihan serta pendampingan kepada mitra. “Harapannya, teknologi yang diterapkan tidak berhenti setelah program selesai. Mitra bisa mengoperasikan, mengembangkan, dan memanfaatkan hasil inovasi ini secara mandiri sehingga memberikan dampak ekonomi dalam jangka panjang,” katanya.
Bagi AIKO Craft, pemanfaatan limbah menjadi peluang untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkuat prinsip produksi yang lebih ramah lingkungan.













