Suasana SDN Kalibaru III Bekasi. Foto Aditya Nugrahakumparan Sejumlah guru dan orang tua siswa mendukung wacana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk kembali membuka opsi siswa tidak naik kelas. Mereka menilai kenaikan kelas sebaiknya mempertimbangkan kemampuan dan perkembangan masing-masing siswa.

Pernyataan Kepala Sekolah

Kepala SDN Kalibaru III Bekasi, Kartini, mengatakan sistem tersebut dapat membantu guru memastikan siswa benar-benar menguasai kemampuan yang dibutuhkan sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya. “Sangat setuju. Jadi, sistem ini kan membolehkan sekolah menyetujui adanya siswa yang tidak naik,” kata Kartini kepada kumparan.

Pentingnya Kemampuan Dasar

Menurut Kartini, siswa yang belum menguasai kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung akan menyulitkan proses pembelajaran apabila langsung naik kelas. “Ketika kelas 1 yang harusnya kemampuan membaca sudah bisa, tapi belum bisa memiliki kemampuan membaca dan dia harus naik kelas, itu menyusahkan guru juga,” ujarnya.

Pengalaman di Sekolah

Dia mengatakan kondisi tersebut membuat guru di kelas berikutnya harus kembali mengajarkan materi dasar yang seharusnya sudah dikuasai siswa. Kartini mengaku di sekolahnya pada tahun sebelumnya terdapat siswa yang tidak naik kelas. Jumlahnya sekitar 5-10 persen atau 2-3 siswa per kelas. Sebagian di antaranya belum mampu membaca, menulis, dan berhitung.

Parameter Kemampuan Siswa

Menurut dia, pemerintah perlu membuat parameter yang jelas mengenai kemampuan yang harus dikuasai siswa sebelum naik kelas. “Yang penting siswa itu ketika naik dan tidak naik itu kemampuannya sesuai yang harus dikuasai di setiap kelas. Misalnya kelas 1 harus penguasaan pembelajarannya seperti apa, ketika dia menguasai minimal 75 persen dia bisa naik. Dan kalau kurang, tidak naik,” katanya.

Permintaan Panduan yang Jelas

Sementara itu, guru kelas 5 SDN Kota Baru II Bekasi, Dita, meminta penerapan kebijakan ini nantinya disertai panduan yang jelas agar guru memiliki dasar dalam menentukan siswa yang dapat naik kelas. “Karena kan memang mungkin ketercapaian dari masing-masing murid berbeda-beda, gitu. Cuma ya nanti ngikut hasilnya bagaimana dan mungkin ada diberikan panduannya untuk bagaimana bisa anak itu naik atau enggak, gitu,” kata Dita.

Kesadaran Guru

Dita mengatakan guru terkadang mengetahui ada siswa yang akan kesulitan mengikuti pembelajaran di jenjang berikutnya. Namun, dalam penerapan sebelumnya, seluruh siswa tetap diarahkan naik kelas. “Kalau boleh jujur ya, mungkin ada. Karena memang kita guru tahu materi di jenjang berikutnya bagaimana. Jadi ketika misalnya kita sudah ngajar murid ini, Oh kalau dia mau naik ke jenjang selanjutnya kayaknya masih akan kesusahan,” jelas dia.

Usulan Parameter Acuan

Dita mengusulkan agar pemerintah tidak sekadar mengubah aturan, tetapi membuat parameter yang dapat menjadi acuan sekolah. “Kalau mau sih tetap dibikin panduan bagaimana sih supaya anak tidak naik kelas. Ada parameter yang jelas agar guru bisa mengambil keputusan yang tepat bagi siswa,” pungkasnya.