Media Kampung – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memiliki sertifikasi barcode pada produknya. Langkah ini dapat mempermudah produk UMKM masuk dan dipasarkan melalui jaringan ritel modern. Budi mengatakan, pemerintah telah bekerja sama dengan GS1 Indonesia untuk memberikan sertifikasi barcode bagi produk pangan kemasan dan beauty care. “Kalau yang kemarin mengenai digitalisasi, kemudian ini barcode, dengan demikian produk-produk kita semakin mudah diterima di ritel modern, termasuk di minimarket dan juga di department store,” kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Menurutnya, penggunaan barcode merupakan bagian dari digitalisasi yang perlu diikuti pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing produk. Barcode juga dapat mempermudah proses layanan, penyimpanan, hingga distribusi barang. “Ini adalah bagian dari digitalisasi yang mau tidak mau harus kita ikuti,” ujarnya.

Budi menambahkan, peluang produk lokal masuk ritel modern cukup besar. Ia menyebut hampir 80 persen ritel modern saat ini telah diisi produk lokal melalui pola kemitraan antara pelaku usaha dan jaringan ritel. Meski begitu, barcode bukan satu-satunya faktor penentu. Produk UMKM tetap harus memenuhi standar kualitas dan memiliki daya saing agar diterima konsumen. “Kalau produk Bapak-Ibu enggak punya daya saing, tidak bagus ya tidak bisa masuk. Karena konsumen punya standar yang kemudian direpresentasikan ke dalam ritel,” ucapnya.

Pada tahap awal, program sertifikasi barcode bersama GS1 Indonesia menargetkan 50 perusahaan. Pemerintah berharap program ini dapat diperluas agar semakin banyak produk lokal memenuhi standar yang dibutuhkan untuk masuk jaringan ritel modern. Budi menilai besarnya jaringan ritel modern menjadi peluang bagi UMKM memperluas pasar dalam negeri. “Kalau semua bisa diisi produk-produk lokal luar biasa. Kalau semua produk lokal bisa masuk ke pasar dan negeri berarti pergantungan terhadap impor juga semakin kecil,” ujarnya.