Media Kampung, Jakarta Pusat – Sejumlah komunitas perlindungan hewan menggelar aksi kampanye untuk menyuarakan kesejahteraan dan perlindungan hewan dalam kegiatan Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu (4 Oktober 2026). Dalam aksi tersebut, para peserta membawa sejumlah atribut, mulai dari poster, spanduk, hingga patung bergambar hewan dan bumi.

Aksi ini digelar bertepatan dengan peringatan World Animal Day atau Hari Hewan Sedunia yang jatuh setiap 4 Oktober. Anggota Act For Farmed Animals, Ari Rostika Utami, mengatakan aksi tersebut melibatkan 11 organisasi perlindungan hewan dengan sekitar 60 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.

Menurut Ari, momentum Hari Hewan Sedunia dimanfaatkan untuk mengingatkan masyarakat bahwa perlindungan dan kesejahteraan hewan di Indonesia masih memprihatinkan. “Hari ini bertepatan dengan World Animal Day, kami dari 11 organisasi perlindungan hewan, momentum ini kita pakai untuk memperingati seluruh lapisan masyarakat bahwa saat ini perlindungan hewan dan kesejahteraan hewan di Indonesia masih dalam taraf yang sangat memprihatinkan,” kata Ari saat ditemui.

Kampanye tersebut juga mengangkat tema Hari Hewan Sedunia tahun ini, yaitu melihat dunia dari sudut pandang hewan. Menurutnya, masih banyak masyarakat dan pelaku usaha yang belum memahami pentingnya kesejahteraan hewan. Ari menegaskan, kesejahteraan hewan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makan dan minum, tetapi juga memastikan hewan dapat menjalani kehidupan sesuai dengan perilaku alaminya.

“Begitu juga hewan-hewan yang mungkin sudah ada di rumah tapi kesejahteraannya belum diperhatikan karena kesejahteraan hewan itu bukan hanya makan dan minum, tetapi bagaimana mereka melakukan kealamiahannya, hidup alamiahnya,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Animal Lawyers Indonesia, Amel, menyoroti masih banyaknya kasus kekerasan, eksploitasi, perdagangan, hingga penelantaran hewan di Indonesia. Ia menilai, perdagangan dan eksploitasi hewan melalui media sosial menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.

“Karena kita tahu bahwa di Indonesia saat ini banyak sekali kasus kekerasan terhadap hewan, lebih-lebih terhadap hewan yang dilakukan di (media sosial) online. Karena banyak sekali eksploitasi, perdagangan hewan itu di media sosial seperti TikTok dan itu sangat mengenaskan,” kata Amel.