Media Kampung – Skandal terkait pelanggaran aturan keuangan yang melibatkan Manchester City telah menimbulkan dampak luas, termasuk ancaman dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk menarik investasi bernilai miliaran poundsterling dari Inggris. Keputusan Premier League yang memvonis Manchester City bersalah atas pelanggaran ini telah menciptakan ketegangan dalam hubungan diplomatik dan ekonomi antara kedua negara.
Pemerintah UEA mengeluarkan peringatan kepada Inggris bahwa mereka siap untuk membatalkan investasi besar, yang mencakup proyek teknologi tinggi di kawasan Oxford dan Cambridge. Pejabat UEA menegaskan bahwa tindakan yang diambil oleh Premier League akan berdampak langsung pada hubungan bilateral kedua negara. Dalam laporan, mereka menyatakan bahwa “tindakan Premier League akan memiliki pengaruh terhadap hubungan bilateral kedua negara.”
Seiring dengan meningkatnya ketegangan ini, Khaldoon Al Mubarak, petinggi Manchester City, dilaporkan telah bertemu dengan Menteri Bisnis Inggris, Jonathan Reynolds, dua pekan sebelum keputusan dijatuhkan. Pertemuan ini menunjukkan upaya untuk menjalin komunikasi dan membahas potensi dampak dari keputusan tersebut.
Di sisi lain, situasi ini juga telah menjadi sorotan dalam politik Inggris. Walikota Greater Manchester, Andy Burnham, tampil membela kepemilikan klub yang berasal dari UEA. Dalam sambutannya, Burnham menyatakan kekhawatirannya jika Manchester City dijual dan menegaskan pentingnya klub dalam pembangunan kota Manchester. “Mereka telah menjadi mitra yang begitu besar dalam pembangunan Manchester modern,” ujarnya.
Sebelumnya, Komisi Independen Premier League menyatakan bahwa Manchester City bersalah atas rekayasa kesepakatan sponsor dari 2009 hingga 2018, di mana dana sponsor tersebut terbukti disokong langsung oleh Abu Dhabi United Group (ADUG), pemilik utama klub. Skandal ini tidak hanya mengancam stabilitas klub, tetapi juga dapat mengganggu hubungan bisnis antara Inggris dan UEA, yang telah terjalin kuat selama ini.














