Media Kampung, Lumajang – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada tanggal 3 Oktober 2026, tepatnya pukul 12.54 WIB. Erupsi ini terekam dalam seismogram Pos Pengamatan Gunungapi Semeru di Gunung Sawur, dengan amplitudo maksimum mencapai 25 mm dan durasi 2 menit 11 detik. Meskipun demikian, tinggi kolom abu tidak dapat teramati karena tertutup kabut.
Data erupsi ini dirilis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Saat ini, status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III (Siaga). Menanggapi kondisi ini, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengimbau masyarakat agar mematuhi rekomendasi yang diberikan oleh PVMBG.
Beberapa rekomendasi yang disampaikan termasuk larangan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak gunung sebagai pusat erupsi. Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, mengingat potensi terjadinya perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
“Kami juga meminta masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah puncak Gunung Semeru karena risiko bahaya lontaran batu pijar,” ungkap Isnugroho. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama di area Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
BPBD juga meminta masyarakat agar tetap tenang namun waspada, serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh PVMBG dan BPBD Lumajang untuk menghindari risiko yang lebih besar.














