Media Kampung – Kelangkaan beras premium dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) menjadi perhatian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Ketua Umum Aprindo, Solihin, menjelaskan bahwa pasokan beras premium sebenarnya masih tersedia di pasaran, namun ritel modern mengalami kesulitan mendapatkan beras dengan harga di bawah HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 14.900 per kilogram.

Kendala Pasokan Beras Premium

Menurut Solihin, anggota Aprindo tidak memproduksi beras, melainkan membeli dari pemasok termasuk Bulog. Karena ritel terikat dengan ketentuan HET, mereka harus menjual beras premium tidak lebih dari harga yang ditetapkan, jika tidak akan menghadapi risiko hukum. Hal ini menyebabkan ritel harus mendapatkan pasokan beras dengan harga yang memungkinkan adanya margin keuntungan, namun harga beras premium di pasaran saat ini sering lebih tinggi dari HET.

Peran Bulog dan Komunikasi dengan Pemerintah

Solihin menyebutkan bahwa Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, telah berkomunikasi dengannya mengenai persiapan pasokan beras premium untuk ritel modern. Pemerintah melalui Menko Pangan dan Menteri Pertanian juga telah memberikan arahan kepada Bulog untuk merealisasikan pasokan beras premium sesuai dengan kebutuhan ritel modern.

Usulan Relaksasi Harga HET

Menanggapi kenaikan harga gabah di tingkat petani yang mencapai Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram, Aprindo telah mengusulkan relaksasi harga HET kepada pemerintah agar harga jual beras premium di ritel dapat disesuaikan. Solihin telah membicarakan hal ini dengan Menko Pangan dan Direktur Utama Bulog, namun pemerintah masih mempertimbangkan usulan tersebut tanpa menetapkan angka baru.

Konteks dan Dampak

Kenaikan harga gabah sebagai bahan baku beras menjadi faktor utama yang mempengaruhi harga beras premium. Dengan harga gabah yang meningkat dua kali lipat dari sebelumnya, ritel modern menghadapi tantangan untuk menjual beras premium sesuai HET tanpa mengalami kerugian. Kelangkaan beras premium dengan harga sesuai HET dapat mempengaruhi konsumsi masyarakat dan stabilitas pasar beras.

Aprindo dan pemerintah terus berupaya mencari solusi agar pasokan beras premium di ritel modern tetap terjaga dengan harga yang wajar dan sesuai regulasi. Realisasi pasokan dari Bulog menjadi hal yang sangat dinantikan oleh pelaku ritel agar kebutuhan konsumen dapat terpenuhi.