Media Kampung, Jakarta – Rupiah melemah ke Rp17.847 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin 21 September 2026, turun 0,5% atau 89 poin. Penurunan terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama serangan Houthi di Arab Saudi, yang mendorong harga minyak di atas US$100 per barel dan menambah tekanan inflasi global. Bank Indonesia mengidentifikasi dua faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah:

  • Kebutuhan valuta asing yang tinggi dari importir serta aliran keluar dana portofolio domestik.
  • Dampak geopolitik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan menurunkan sentimen pasar.

BI menyatakan akan terus beroperasi di pasar spot, NDF, DNDF, dan membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder untuk menstabilkan rupiah. Analis pasar memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.840‑Rp17.900 pada perdagangan Selasa 22 September, sambil menunggu keputusan suku bunga RDG BI. Kondisi ini menambah beban bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam dolar, serta meningkatkan risiko inflasi domestik. Pemerintah dan otoritas moneter terus memantau perkembangan harga minyak serta situasi geopolitik, dengan harapan stabilitas nilai tukar dapat dipertahankan dalam jangka pendek.

Baca juga:
Baca juga:
Baca juga: