Media Kampung – Napoli menghadapi kesulitan serius dalam mencetak gol pada awal musim Serie A 2026/2027 di bawah pelatih Massimiliano Allegri. Setelah enam pertandingan, tim ini hanya berhasil mencetak tujuh gol, catatan terburuk mereka dalam 21 tahun terakhir, sejak masih berlaga di Serie C.
Situasi ini menjadi sorotan utama karena performa lini depan Napoli yang terlihat mandek, terutama penyerang Rasmus Hojlund. Meski memiliki potensi menyerang yang baik, Hojlund hanya berhasil menguasai 15 bola di dalam kotak penalti lawan dalam enam pertandingan, angka yang jauh di bawah penyerang utama klub besar lainnya di Serie A, seperti Lautaro Martinez dan Donyell Malen yang masing-masing menguasai hampir 48 bola.
Kesulitan Napoli dalam mencetak gol juga tercermin dalam pertandingan terakhir mereka melawan Fiorentina yang berakhir 1-1. Napoli sempat unggul melalui gol Billy Gilmour pada menit ke-23, namun kemudian harus puas dengan hasil imbang setelah Alex Jimenez menyamakan kedudukan untuk Fiorentina. Dalam pertandingan tersebut, lini depan Napoli kurang memberikan ancaman serius, dengan Hojlund sering kalah duel dan pemain lainnya seperti Politano dan De Bruyne tampil kurang maksimal.
Keputusan Napoli menunjuk Massimiliano Allegri sebagai pelatih yang dianggap mampu mengelola skuad dengan biaya terkendali kini dipertanyakan. Allegri yang dikenal dengan gaya pelatihannya yang tidak terlalu campur tangan dalam urusan transfer, menghadapi tantangan besar karena skuad Napoli dianggap sudah kelelahan secara fisik dan mental serta membutuhkan penyegaran yang tidak terjadi pada musim panas ini.
Performa buruk Napoli ini juga diperparah dengan statistik buruk Allegri yang baru mengumpulkan 7 poin dari 15 poin maksimal dalam lima pertandingan Serie A musim ini. Posisi Napoli kini tertinggal jauh dari pemuncak klasemen yang diisi oleh Roma dan Inter, dan menimbulkan tekanan besar bagi Allegri dan timnya menjelang jadwal pertandingan yang relatif lebih ringan di bulan Oktober.
Kesulitan ini bukan hanya masalah individu pemain, tetapi juga terkait dengan gaya permainan yang diterapkan Allegri yang dinilai kurang efektif. Para penyerang Napoli, termasuk Hojlund, dipaksa bermain dengan gaya yang tidak sesuai karakteristik mereka, seperti harus sering bermain dengan punggung menghadap gawang dan jarang mendapatkan dukungan dari lini tengah.
Dalam sejarah kepelatihan Allegri, beberapa penyerang top yang pernah bermain di bawah asuhannya juga mengalami penurunan performa setelah bergabung ke Juventus, seperti Dusan Vlahovic. Hal ini menunjukkan adanya pola kesulitan adaptasi penyerang dengan taktik Allegri yang berorientasi pada skema tertentu tanpa banyak variasi.
Ke depan, Napoli diharapkan bisa mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas gol dan mengoptimalkan potensi pemain yang ada. Tekanan terhadap Allegri akan semakin besar untuk memperbaiki performa tim agar bisa bersaing di papan atas klasemen dan memenuhi ekspektasi suporter serta manajemen klub.














Tinggalkan Balasan