Media Kampung – Presiden Prabowo Subianto meminta Polri untuk selalu berada di tengah masyarakat, membela rakyat, dan merasakan penderitaan yang dialami masyarakat. Pernyataan itu disampaikan saat memimpin upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Satlat Brimob Cikeas, Bogor, pada Rabu (1/7/2026). Menurut Prabowo, Polri lahir dari perjuangan kemerdekaan sehingga memiliki kedekatan kuat dengan rakyat. “Polri harus selalu di tengah-tengah rakyat dan harus selalu membela rakyat, merasakan penderitaan rakyat,” ujarnya.

Di tengah pesan ideal tersebut, peringatan HUT Bhayangkara juga diwarnai aksi protes mahasiswa. Sekitar 30 mahasiswa dari BEM UI datang membawa keranda mayat bertuliskan “Kepolisian Republik Indonesia” sebagai simbol kritik terhadap reformasi Polri. Mereka dihadang polisi sekitar setengah kilometer sebelum gerbang Mabes Polri. Kapolsek Metro Kebayoran Baru, AKBP Nugrahadi Kusuma, menyatakan penghentian aksi sebagai diskresi kepolisian, sementara mahasiswa mengklaim telah mengirim surat pemberitahuan resmi.

Di sisi lain, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memamerkan sejumlah capaian institusinya. Sepanjang 2026, Polri mengungkap 464 tindak pidana di sektor energi dengan 594 tersangka, menyita 669.000 liter solar, 80.000 liter Pertalite, dan sekitar 30.000 tabung LPG. Selain itu, Polri turut mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan membangun lebih dari seribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai memiliki kualitas terbaik oleh pengamat internasional.

Prabowo juga mengapresiasi peran Polri dalam ketahanan pangan, seperti pengembangan produksi jagung dan pembangunan gudang pangan berkualitas. Di Sumatera Utara, Wakil Gubernur Surya memberikan apresiasi atas pengabdian Polda Sumut dalam menjaga keamanan, memberantas narkoba, dan membantu bencana. Wakapolda Sumut Brigjen Pol Sonny Irawan menegaskan bahwa pemberlakuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2026 memperluas tugas kepolisian dalam pelayanan publik.

Namun, kritik terhadap Polri tetap mengemuka. Sebuah kolom opini menyoroti bahwa Polri seharusnya menjadi institusi yang membuat rakyat merasa aman, bukan takut. Tema HUT ke-80 “Polri untuk Masyarakat” dinilai berat karena menuntut polisi hadir melindungi, bukan menakut-nakuti. Momentum ini menjadi pengingat bahwa reformasi Polri masih perlu terus dijalankan agar institusi benar-benar berpihak pada rakyat.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.