Media Kampung – Tari Serampang 12 merupakan kesenian tradisional khas Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, yang memadukan keindahan gerak Melayu Deli dengan tempo cepat dan dinamis. Tarian ini diciptakan oleh Guru Sauti, seorang pendidik kelahiran Pantai Cermin tahun 1903 yang mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan dan kebudayaan hingga wafat pada 1963.

Awalnya tarian ini dikenal dengan nama Tari Pulau Sari karena menggunakan lagu pengiring berjudul sama. Namun sekitar tahun 1950-an, namanya diubah menjadi Serampang 12 untuk menyesuaikan dengan ritme gerakan yang sangat cepat dan lincah. Pada awal penciptaannya, tarian ini hanya boleh ditarikan oleh kaum pria, tetapi kini penari perempuan juga ikut serta berpasangan.

Makna di Balik 12 Gerakan

Tari Serampang 12 menceritakan perjalanan cinta sepasang kekasih dari pertemuan hingga pernikahan melalui 12 tahapan gerakan berurutan. Fase awal meliputi gerakan permulaan, berjalan, pusing, dan gila yang menggambarkan tumbuhnya benih asmara, rasa penasaran, serta kegundahan hati saat mulai mabuk kepayang.

Alur romansa berlanjut pada gerakan sipat, goncat-goncet, sebelah kaki, dan langkah tiga, di mana sang gadis memberi isyarat lampu hijau lewat permainan mata. Sang pemuda kemudian menyatakan isi hatinya, dan mereka berkomitmen menjalin hubungan serta memperkenalkan diri kepada keluarga masing-masing.

Tahap akhir terdiri dari gerakan melonjak, datang-mendatangi, rupa, dan sapu tangan. Gerakan ini menyiratkan debaran hati menanti restu orang tua, prosesi lamaran, hingga puncaknya saat bersanding di pelaminan dan mengikat janji suci melalui simbol jalinan sapu tangan berwarna cerah.

Kostum dan Musik Pengiring

Penari mengenakan pakaian adat Melayu Pesisir bernuansa cerah seperti merah, biru muda, atau merah muda. Penari pria memakai setelan kemeja dan celana panjang lengkap dengan peci serta kain songket sebatas lutut. Penari wanita mengenakan baju kurung lengan panjang dengan kain tenun yang menjuntai hingga mata kaki.

Gerakan berpasangan yang harmonis diiringi musik tradisional dari perpaduan akordeon, kecapi, dan rebana. Seiring perkembangan zaman, instrumen pengiring kini bertambah dengan organ atau piano, bahkan sering disajikan dalam bentuk rekaman audio untuk kepraktisan pertunjukan di atas panggung.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.