Banjarnegara tengah menjadi sorotan setelah kisah seorang wanita yang memilih membangun sendiri “gedung” untuk pernikahannya viral di media sosial. Ketika banyak pasangan lebih memilih gedung modern atau venue mewah, Siska Marisah, 28 tahun, justru menempuh cara berbeda yang jauh lebih unik—mendirikan bangunan besar dari bambu di tanah desanya sendiri.

Video yang dibagikan akun Instagram @gaddes09 memperlihatkan rangka bambu berukuran masif berdiri di tengah panorama perbukitan yang hijau. Suasana desa yang tenang menjadi latar persiapan hajatan yang ternyata sudah dimulai sejak 2025, setahun sebelum Siska dan tunangannya, M Nur AlFalah, akan menikah pada Januari 2026.

Pembangunan lokasi acara ini bukanlah pekerjaan kecil. Bambu-bambu dalam jumlah besar diangkut dengan truk, lalu dirangkai oleh para pekerja yang seluruhnya dibayar secara profesional, bukan sukarelawan. Selain memprioritaskan keamanan konstruksi, keluarga Siska juga membeli bambu langsung dari petani desa sehingga memberikan pemasukan tambahan bagi warga sekitar.

Unggahan perjalanan membangun gedung bambu itu kini menembus lebih dari 4,1 juta penonton. Komentar warganet pun beragam, mulai dari yang penasaran soal biaya hingga yang mengapresiasi kegigihan Siska dan keluarganya. Banyak juga yang menantikan hasil akhir bangunan unik tersebut karena usaha yang dikeluarkan terlihat begitu besar.

Dalam wawancara dengan Wolipop, Siska mengungkapkan bahwa ide membangun gedung bambu merupakan gagasan ayahnya, Kudrat. Mereka mengusung konsep pernikahan adat Jawa dengan nuansa desa yang kental. Meski belum melihat wujud akhir bangunan, Siska mengaku terkejut saat menyaksikan prosesnya yang begitu besar, seperti melihat rumah baru sedang dibangun di kampung.

Ia mengatakan bahwa alasan mereka tidak memilih gedung adalah faktor lokasi yang jauh dari tempat tinggal. Namun yang jauh lebih penting adalah keinginan mengadakan tasyakuran di kampung agar keluarga besar bisa berkumpul dalam waktu lebih lama. Dengan tamu yang diperkirakan mencapai lebih dari 2.500 orang, mereka membutuhkan tempat yang luas dan mudah diakses seluruh keluarga.

Selain itu, proyek ini memang dirancang agar memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Delapan pekerja utama dilibatkan setiap hari, dibantu warga atau keluarga sesekali. Siska berharap kebahagiaan hajatan besar ini dapat dirasakan oleh seluruh warga yang ikut membantu.

Bangunan bambu tersebut rencananya akan dibuat dua lantai. Lantai pertama untuk dapur dan perlengkapan hajatan, sementara lantai kedua akan menjadi area penyambutan tamu. Meski konsepnya sederhana, keluarga Siska ingin menghadirkan suasana perayaan yang hangat dan khas tradisi desa.

Menjelang hari pernikahan yang tinggal hitungan bulan, mereka telah memesan undangan, suvenir, serta booking berbagai vendor seperti WO, MUA, dekorasi, dan lainnya. Dengan persiapan panjang lebih dari satu tahun, pernikahan adat Jawa yang digelar di kampung ini dipastikan akan menjadi salah satu hajatan yang paling berkesan di awal tahun 2026. (selsy).