Media Kampung – 11 April 2026 | Institut Teknologi Pelita (INTP) resmi menerima penghargaan Proper atas keberhasilan mengolah lebih dari dua ribu ton limbah menjadi bahan bakar alternatif.

Proyek tersebut memanfaatkan proses pirolisis untuk mengubah sampah organik dan plastik menjadi bio‑karbon yang dapat dipakai sebagai bahan bakar industri.

Tim peneliti INTP mengklaim bahwa teknologi ini dapat menurunkan emisi CO2 hingga 40 persen dibandingkan pembakaran konvensional.

Direktur Laboratorium Energi Terbarukan, Dr. Arif Nugroho, menjelaskan bahwa skala produksi saat ini sudah mencukupi kebutuhan pabrik semen di wilayah Jawa Timur.

Ia menambahkan, “Kami menargetkan peningkatan kapasitas menjadi sepuluh ribu ton per tahun dalam dua tahun ke depan.”

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 65 juta ton sampah per tahun, dengan proporsi signifikan belum terkelola secara optimal.

Inisiatif INTP diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan produksi energi bersih.

Penghargaan Proper yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup menilai proyek tersebut memenuhi kriteria efisiensi, keberlanjutan, dan dampak sosial positif.

Penilaian mencakup aspek teknis, ekonomi, serta kontribusi terhadap pencapaian target pengurangan emisi nasional.

Selain meningkatkan nilai ekonomi sampah, proyek ini juga menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari seratus tenaga kerja lokal.

Para pekerja terlibat dalam proses pengumpulan, pemilahan, serta pengoperasian unit pirolisis yang berkapasitas tinggi.

Para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah Banyuwangi, menyatakan dukungan penuh terhadap ekspansi fasilitas tersebut.

Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, menyebut, “Inovasi seperti ini mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi sirkular.”

Penggunaan bahan bakar alternatif berbasis limbah dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta menurunkan biaya operasional.

Proyek INTP juga mendapat perhatian dari sektor akademik, dengan beberapa universitas mengajukan kerjasama riset lanjutan.

Penelitian lanjutan difokuskan pada optimalisasi suhu pirolisis dan peningkatan kualitas produk akhir.

Jika berhasil, teknologi ini berpotensi diaplikasikan pada skala nasional, termasuk di pulau-pulau terpencil dengan keterbatasan infrastruktur energi.

Secara keseluruhan, pencapaian INTP mencerminkan sinergi antara inovasi teknologi, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat dalam mengatasi permasalahan limbah.

Penghargaan ini diharapkan memotivasi lebih banyak inisiatif serupa guna mempercepat realisasi agenda energi bersih Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.