Media Kampung – 01 April 2026 | Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengumumkan penggunaan aplikasi mobile untuk melacak pergerakan pendaki secara real‑time.
Aplikasi bernama Rinjani Beacon wajib di‑install oleh semua wisatawan, pemandu, dan pramubarang sejak proses check‑in sebelum memulai pendakian.
Setiap pengguna masuk ke sistem dengan login, sehingga posisi mereka dapat dipantau langsung di command center TNGR.
Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan menjelaskan bahwa data lokasi dihasilkan setiap beberapa menit selama ponsel tetap aktif.
Budhy menekankan bahwa ketika ponsel mati, sinyal tidak dapat diterima, sehingga jaringan titik akses di jalur menjadi faktor penentu kelancaran pelacakan.
Sistem ini mengadopsi prinsip Personal Locator Beacon (PLB) yang biasanya dipakai tim SAR Basarnas dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Dengan mengintegrasikan teknologi PLB ke aplikasi, TNGR berharap dapat mempercepat respons bila terjadi kecelakaan atau situasi darurat.
Petugas di command center dapat melihat koordinat GPS pendaki pada peta digital, serta riwayat pergerakan sepanjang rute.
Informasi tersebut memungkinkan tim penyelamat menilai jarak tempuh dan potensi titik bahaya secara lebih akurat.
Selain aplikasi, TNGR juga memperkenalkan gelang RFID yang dipakai oleh satu atau dua anggota tiap regu pendaki.
Gelang tersebut terhubung ke jaringan pembaca RFID yang ditempatkan di pos‑pos pemeriksaan sepanjang lintasan Rinjani.
Setiap kali pendaki melintasi pos, gelang otomatis dipindai dan data masuk ke pusat kendali tanpa harus mengisi formulir manual.
Data dari gelang melengkapi informasi aplikasi, sehingga koordinat pendaki dapat diverifikasi dari dua sumber independen.
Budhy menyatakan bahwa kombinasi Rinjani Beacon dan gelang RFID akan diterapkan pada musim pendakian tahun ini.
Implementasi ini menggantikan prosedur manual yang selama ini mengandalkan catatan kertas dan laporan lisan.
Transformasi digital ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memodernisasi layanan taman nasional.
Dalam rapat koordinasi, petugas menegaskan pentingnya edukasi pendaki tentang cara mengaktifkan aplikasi dan menjaga ponsel tetap menyala.
TNGR juga menyediakan hotspot Wi‑Fi terbatas di beberapa titik strategis untuk memastikan data dapat di‑upload secara konsisten.
Penggunaan aplikasi diharapkan menurunkan angka kehilangan jejak pendaki yang selama beberapa tahun terakhir menjadi perhatian utama.
Statistik internal TNGR mencatat rata‑rata 3‑4 insiden per musim yang melibatkan pendaki tidak dapat di‑hubungi.
Dengan sistem pelacakan, respons tim SAR dapat dipersingkat dari jam menjadi menit.
Budhy menambahkan bahwa sistem tidak menggantikan peran pemandu, melainkan menjadi alat bantu tambahan untuk meningkatkan keamanan bersama.
Pemandu tetap bertanggung jawab memimpin grup, sementara aplikasi memberikan gambaran situasi secara menyeluruh kepada otoritas.
Bagi pendaki, proses check‑in kini meliputi pengunduhan aplikasi, registrasi data pribadi, dan aktivasi gelang RFID sebelum memasuki zona base camp.
Semua data yang dikumpulkan bersifat anonim dan disimpan sesuai regulasi perlindungan data pribadi.
TNGR berkomitmen untuk tidak menyebarluaskan informasi lokasi kepada pihak ketiga tanpa izin.
Penggunaan teknologi ini mendapat sambutan positif dari komunitas pendaki lokal dan operator tur.
Beberapa agen perjalanan mencatat peningkatan kepercayaan pelanggan setelah mengetahui adanya sistem pemantauan real‑time.
Meskipun demikian, pihak balai mengingatkan bahwa teknologi tidak menjamin keselamatan mutlak bila pendaki mengabaikan protokol dasar.
Budhy menekankan pentingnya persiapan fisik, pemilihan jalur yang sesuai, dan kepatuhan pada peraturan taman nasional.
Ke depan, TNGR meninjau kemungkinan menambah sensor cuaca otomatis di pos‑pos utama untuk melengkapi data lokasi.
Integrasi data cuaca dengan aplikasi dapat memberikan peringatan dini bila kondisi berubah drastis.
Proyek ini juga menjadi contoh bagi taman nasional lain di Indonesia yang ingin mengadopsi solusi digital serupa.
Diharapkan jaringan pelacakan nasional dapat terbentuk, menghubungkan pulau‑pulau dengan standar keamanan yang konsisten.
Pada akhirnya, penggunaan Rinjani Beacon dan gelang RFID merupakan langkah konkret untuk memperkuat keselamatan pendaki di Gunung Rinjani.
Balai TNGR menutup dengan harapan semua pihak dapat memanfaatkan teknologi ini demi pengalaman pendakian yang lebih aman dan terkelola.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan