Sidang dugaan dampak negatif Instagram terhadap kesehatan mental anak di bawah umur memasuki babak penting di Los Angeles, dengan Head of Instagram Adam Mosseri memberikan pembelaan langsung atas tudingan tersebut. Dalam persidangan yang dimulai pekan lalu dan dijadwalkan berlangsung selama enam minggu, Mosseri menegaskan bahwa penggunaan Instagram yang terlihat berlebihan tidak otomatis bisa dikategorikan sebagai kecanduan klinis.
Mosseri, yang telah memimpin Instagram selama delapan tahun, menjadi eksekutif pertama dari platform besar yang hadir langsung di ruang sidang. Perkara ini dinilai sebagai ujian hukum penting untuk menentukan sejauh mana perusahaan teknologi dapat dimintai pertanggungjawaban atas dampaknya terhadap anak muda.
Dalam keterangannya, Mosseri menyatakan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan pengguna, terutama kalangan remaja. Namun ia menilai tidak ada batas tegas yang bisa dijadikan patokan universal untuk menyebut durasi penggunaan media sosial sebagai kecanduan. Menurutnya, kondisi tersebut bersifat personal dan berbeda pada setiap individu.
Ia membedakan antara kecanduan klinis dan penggunaan yang bermasalah. Mosseri menilai istilah “kecanduan” kerap digunakan secara longgar dalam percakapan sehari-hari, padahal secara medis memiliki definisi yang berbeda. Saat ditanya mengenai kasus penggugat berinisial K.G.M yang disebut menggunakan Instagram hingga 16 jam dalam sehari, Mosseri mengakui durasi tersebut terdengar bermasalah, tetapi tidak secara langsung menyimpulkannya sebagai kecanduan. Ia juga berulang kali menegaskan bahwa dirinya bukan pakar dalam bidang adiksi.
Persidangan turut menyinggung hasil survei internal Meta terhadap sekitar 269.000 pengguna Instagram yang menunjukkan mayoritas responden pernah melihat atau mengalami perundungan dalam sepekan terakhir. Dalam sidang terungkap pula bahwa penggugat disebut telah mengajukan ratusan laporan terkait dugaan perundungan di platform tersebut. Mosseri menyatakan tidak mengetahui secara spesifik laporan-laporan itu.
Isu lain yang menjadi perhatian adalah pembahasan internal Meta pada 2019 mengenai dampak fitur filter yang memungkinkan pengguna mengubah penampilan fisik di foto. Mantan eksekutif Meta Nick Clegg disebut pernah mengingatkan potensi risiko reputasi jika perusahaan dinilai lebih mengejar pertumbuhan ketimbang tanggung jawab sosial. Mosseri menjelaskan bahwa perusahaan kemudian membatasi filter yang dinilai melampaui efek riasan, meski kebijakan tersebut belakangan mengalami penyesuaian dan bukan dicabut sepenuhnya.
Selain perkara ini, Meta bersama sejumlah perusahaan media sosial lain seperti YouTube, Snapchat, dan TikTok juga menghadapi ribuan gugatan serupa dari keluarga, jaksa negara bagian, serta distrik sekolah di berbagai wilayah Amerika Serikat. Gugatan-gugatan tersebut umumnya berkaitan dengan dugaan dampak platform digital terhadap kesehatan mental anak dan remaja.(SY)









Tinggalkan Balasan