Media Kampung – 06 April 2026 | Lucinta Luna, artis yang sebelumnya dikenal dengan penampilan feminin, kembali menarik perhatian publik setelah melaksanakan salat Idul Fitri di Korea Selatan dengan mengenakan pakaian pria.
Ia menempati barisan shaf laki‑laki dan memakai sarung, koko, serta peci, menegaskan pilihan tersebut sebagai upaya menyesuaikan ibadah dengan identitas gender yang ia rasa lebih autentik.
Dalam wawancara di kanal YouTube bersama Ivan Gunawan, Lucinta menjelaskan bahwa selama sepuluh tahun terakhir ia tidak melaksanakan salat Id, baik Hari Raya maupun Idul Adha.
Ia menambahkan bahwa selama bertahun‑tahun ia memakai pakaian yang tidak sesuai kodrat, sehingga merasa tidak nyaman dan sering mendapat komentar negatif.
“Aku ingin beribadah dengan tenang, tanpa dihujat,” kata Lucinta, menekankan bahwa penampilan maskulin di luar negeri memberinya rasa aman yang sulit didapatkan di Indonesia.
Keputusan itu diambil setelah ia merasakan tekanan publik yang terus mengawasi setiap penampilannya, termasuk spekulasi tentang identitas gendernya.
Lucinta menegaskan bahwa perubahan gaya berpakaian, termasuk memotong rambut pendek, merupakan bagian dari proses menemukan jati diri.
Pada hari Idul Fitri, ia melaksanakan salat di sebuah masjid di Seoul dan mengaku merasakan ketenangan yang belum ia rasakan sejak lama.
Suara takbir yang terdengar tujuh kali membuatnya terharu, ia mengaku “rasanya sedih banget” namun juga lega karena dapat beribadah sesuai hati.
Setelah selesai salat, ia langsung mengunjungi makam kedua orang tuanya di Korea Selatan, mengenakan pakaian pria dan memperkenalkan diri sebagai Fatah, nama yang ia sebut sejak lahir.
“Mak, ini Fatah yang datang, bukan Lucinta Luna yang selama ini dibicarakan netizen,” ucapnya dengan suara bergetar.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua atas segala kebingungan yang pernah ia timbulkan, sekaligus menegaskan bahwa identitas aslinya kini lebih terbuka.
Perubahan penampilan dan keputusan beribadah di barisan laki‑laki menimbulkan beragam reaksi, ada yang memberikan dukungan dan ada pula yang mengkritik keras.
Namun Lucinta menegaskan bahwa keberanian kecil ini merupakan langkah penting dalam proses penyembuhan mentalnya yang selama ini terguncang.
Di podcast bersama Ivan Gunawan, ia mengaku sering menangis di malam hari karena tuntutan publik yang berlebihan dan kenangan akan kedua orang tuanya.
Tekanan tersebut membuatnya merasa hidup tidak tenang, sehingga ia mencari cara untuk mengembalikan kedamaian diri.
Menurut Lucinta, menunaikan salat di shaf laki‑laki membantu mengurangi rasa tidak cocok yang selama ini ia rasakan dalam barisan perempuan.
Ia menambahkan bahwa kenyamanan fisik dan mental selama beribadah menjadi faktor utama dalam memilih pakaian maskulin.
Keberanian untuk melakukannya di luar negeri dipandang sebagai cara menghindari sorotan intens yang biasanya muncul di media sosial Indonesia.
Pengamat budaya mencatat bahwa kasus Lucinta mencerminkan dinamika identitas gender di era digital, di mana figur publik sering menjadi medan perdebatan.
Sementara itu, komunitas Muslim di Korea Selatan menyambut kehadiran Lucinta dengan sikap netral, menekankan pentingnya niat dalam beribadah.
Lucinta berharap tindakan ini dapat membuka ruang dialog yang lebih luas tentang kebebasan berpenampilan dalam konteks keagamaan.
Ia juga menyatakan niat untuk terus memperbaiki kondisi mentalnya dan tetap berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan rasa nyaman pribadinya.
Momen Idul Fitri di Korea Selatan menjadi titik balik bagi Lucinta Luna, menandai langkah pertama kembali ke praktik ibadah setelah satu dekade.
Keputusan ini menunjukkan bahwa perubahan penampilan tidak semata‑mata soal mode, melainkan bagian dari pencarian identitas dan kesejahteraan batin.
Lucinta menutup dengan harapan agar masyarakat lebih menerima variasi ekspresi gender tanpa menghakimi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan